Pasar Teluk Terbelah Dampak Perang Iran, Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Penentu Arah Investasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pasar keuangan di kawasan Teluk (Gulf) menunjukkan pergerakan yang semakin terfragmentasi sejak pecahnya perang Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Volatilitas harga minyak dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang membentuk sentimen investor, sekaligus menciptakan jurang kinerja antar-bursa saham di kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan CNBC yang diterbitkan pada Jumat (27/3/2026), indeks saham di kawasan Teluk bergerak tidak seragam. Oman dan Arab Saudi justru mencatat kinerja positif, sementara Dubai mengalami tekanan signifikan. Sejak 1 Maret 2026—sehari setelah konflik dimulai—indeks Oman melonjak 9,3%, sedangkan indeks Saudi Tadawul menguat 5,8%. Sebaliknya, indeks DFM Dubai anjlok hampir 16% dalam periode yang sama, diikuti Qatar yang turun 4% dan Bahrain yang melemah 7,2%.
Baca Juga
Iran Tolak Pembicaraan Langsung dengan AS, Minyak Brent Tembus US$ 108
Perbedaan kinerja ini mencerminkan struktur ekonomi masing-masing negara. Arab Saudi diuntungkan oleh lonjakan harga minyak global yang menjadi tulang punggung ekonominya. Harga minyak Brent dalam sepekan terakhir bertahan di kisaran US$ 100 per barel dan bahkan mencapai sekitar US$ 110 per barel pada Jumat (27/3/2026), sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei berada di atas US$ 95 per barel.
Menurut Damanick Dantes, pendiri Dantes Outlook, dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis (26/3/2026), kenaikan harga minyak menjadi katalis positif bagi pasar Saudi yang didominasi perusahaan energi besar seperti Saudi Aramco. Selain itu, kemampuan Arab Saudi mengekspor minyak melalui jalur pipa ke Mediterania—tidak bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz—memberikan keunggulan strategis di tengah konflik yang menjadikan jalur tersebut sebagai titik krusial.
Di sisi lain, Oman juga mencatat kinerja kuat karena dipandang sebagai safe haven regional. Investor tertarik pada strategi diversifikasi ekonomi negara tersebut melalui program Vision 2040, yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada minyak.
Sebaliknya, Uni Emirat Arab, khususnya Dubai, mengalami tekanan lebih besar. Struktur ekonominya yang lebih sensitif terhadap sektor properti dan dinamika geopolitik global membuat pasar sahamnya rentan terhadap gejolak. Meski sempat mencatat rebound mingguan sebesar 2,4% dengan kenaikan tajam saham properti dan perbankan, tekanan struktural masih membayangi.
Laporan Reuters yang diterbitkan pada 26–27 Maret 2026 juga menegaskan bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik Iran–Israel–AS telah meningkatkan ketidakpastian di pasar global, termasuk di kawasan Teluk. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih defensif di tengah risiko gangguan pasokan energi, terutama terkait ancaman terhadap Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia.
Sementara itu, analis dari UBP Dubai, Fahd Iqbal, dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis (26/3/2026), menilai bahwa peluang perbaikan sentimen pasar sangat bergantung pada tanda-tanda de-eskalasi konflik. Namun, ia mengingatkan bahwa resolusi penuh kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama, terutama jika konflik melewati “garis merah” seperti serangan terhadap infrastruktur energi atau fasilitas desalinasi air.
Iqbal menyoroti risiko inflasi bagi negara-negara Teluk yang mata uangnya dipatok terhadap dolar AS. Penguatan dolar dan ekspektasi kenaikan suku bunga membuat tekanan inflasi tetap tinggi. Bahkan, emas—yang secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai—menunjukkan perilaku yang lebih mirip aset berisiko dalam kondisi saat ini.
Senada, laporan Bloomberg pada 27 Maret 2026 mencatat bahwa investor global kini lebih selektif, menghindari posisi agresif dan berfokus pada aset berkualitas tinggi yang memiliki ketahanan terhadap ketidakpastian. Namun demikian, peluang tetap ada, terutama di sektor-sektor tertentu seperti pra-IPO di Arab Saudi yang masih menarik minat investor dengan toleransi risiko lebih tinggi.
Dantes menegaskan bahwa kondisi pasar saat ini menuntut kehati-hatian. “Ini bukan waktu untuk mengambil risiko berlebihan. Fokus pada aset berkualitas dengan daya tahan tinggi di tengah pasar yang tidak pasti,” ujarnya.
Baca Juga
Krisis Harga Minyak Jadi Momentum, Saatnya Indonesia Percepat Konversi Kendaraan Listrik
Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa dinamika konflik dapat berubah cepat. Setiap potensi kesepakatan damai atau de-eskalasi dapat memicu reli besar di pasar, sehingga investor tidak sepenuhnya bisa bersikap defensif.
Dengan demikian, perang Iran tidak hanya mengguncang stabilitas geopolitik kawasan, tetapi juga menciptakan lanskap pasar yang terfragmentasi. Negara berbasis energi, seperti Arab Saudi menikmati windfall dari kenaikan harga minyak, sementara ekonomi yang lebih terdiversifikasi namun sensitif terhadap sentimen global, seperti Dubai justru mengalami tekanan. Dalam situasi ini, arah pasar akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik dan stabilitas harga energi global.

