Penerbitan Surat Utang Korporasi 2025 Diproyeksi Tembus Rp 155,43 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2025 diproyeksi mencapai Rp 155,43 triliun. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebanyak 5,23% dari realisasi tahun lalu (year on year/yoy) yang sebesar Rp 147,4 triliun.
Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan, proyeksi tersebut berpeluang tercapai karena realisasi penerbitan surat utang korporasi per kuartal I-2025 telah menunjukkan pertumbuhan hingga 77,4% (yoy) menjadi Rp 46,75 triliun.
Berdasarkan perkembangan tersebut, Pefindo membuat prospek penerbitan surat utang korporasi pada sisa tahun 2025 di kisaran Rp 139,29 triliun sampai Rp 155,43 triliun.
Baca Juga
Saham PGN (PGAS) Tersengat Sentimen Positif Wacana Impor Gas dari AS, Berikut Rekomendasinya
“Tahun ini kami masih belum mengubah proyeksi, kami memperkirakan pasar surat utang korporasi masih akan cukup solid. Memang kalau kita lihat realisasi kuartal pertama bahkan bisa dibilang sangat baik karena tumbuhnya signifikan sekali,” ujar Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto, baru-baru ini.
Suhindarto pun membedah sejumlah peluang yang mampu mendorong penerbitan surat utang korporasi tahun ini. Pertama, kebutuhan refinancing korporasi yang diperkirakan masih tinggi pada 2025. Berkaca dari realisasi kuartal I-2025, Pefindo mencatat 53,6% perusahaan menerbitkan surat utang korporasi untuk refinancing.
Pefindo memperkirakan, nilai surat utang yang jatuh tempo tahun ini masih cukup besar yakni mencapai Rp 161,21 triliun, seiring tren penerbitan tenor pendek tahun lalu. Suhindarto menginformasikan, surat utang korporasi tenor 3 tahun dan 1 tahun cukup diminati pada 2024. “Ini karena cukup banyak satu tahunnya maka tahun ini surat utang tersebut akan jatuh tempo dan kemungkinan akan di-refinancing ya,” jelasnya.
Surat utang dengan tenor pendek tersebut, banyak dijadikan strategi korporasi dalam menghadapi kondisi ketidakpastian dan suku bunga tinggi yang saat ini masih terus berlangsung.
Baca Juga
8 Emiten Ini Gelar Cum Dividen Menggiurkan Pekan Ini, Berikut Daftarnya
Dengan menerbitkan surat utang jangka pendek yang umumnya bertenor satu tahun, perusahaan berharap bisa menerbitkan surat utang baru dengan kupon lebih rendah. Praktik ini dijalankan, mengikuti prospek pelonggaran moneter dengan harapan penurunan suku bunga acuan.
Kedua, peluang penerbitan surat utang korporasi yang lebih tinggi tahun ini, juga didukung data aktivitas sektor riil yang diperkirakan masih akan solid. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih akan berada di kisaran rata-rata historisnya.
“Kami melihat kondisi ini akan cukup relatif kondusif dalam mendukung dunia usaha. Karena meskipun ada gejolak di perekonomian global seperti saat ini namun melihat struktur ekonomi Indonesia memang mostly lebih banyak ditopang konsumsi dan investasi. Cenderung dipengaruhi kondisi domestiknya sendiri,” tegas Suhindarto.
Dengan begitu, jika perekonomian domestik bisa dijaga dan terus solid maka akan mampu mendukung dunia usaha.
Baca Juga
Obligasi Berkelanjutan Mitratel (MTEL) kembali Raih Peringkat idAAA dengan Prospek Stabil
Ketiga, Pefindo juga memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter akan berlanjut tahun ini, sejalan dengan ruang penurunan suku bunga acuan dari Bank Indonesia (BI) yang masih terbuka. “Beberapa kali kalau kita dengar konferensi pers Gubernur BI juga mereka melihat bahwa peluang untuk pelonggaran moneter itu ada. Namun memang mereka masih akan mencermati kapan momen paling tepat untuk melonggarkan moneter ini lebih jauh karena sejauh ini BI juga benar-benar concern pada stabilitas nilai tukar,” papar dia.
Keempat, penerbitan surat utang korporasi tahun ini didukung kondisi perusahaan yang cenderung mencari pendanaan di dalam negeri. Sebab, kondisi global dihadapkan pada volatilitas nilai tukar yang kurang menguntungkan bagi korporasi, disertai suku bunga global yang masih tinggi.
“Dengan kondisi tersebut maka terdapat pergeseran behavior dari korporasi karena mereka kalau mencari pendanaan ke luar negeri itu cukup costly. Dengan kondisi di dalam negeri yang relatif favorable diharapkan ini masih bisa dimanfaatkan untuk para korporasi yang membutuhkan pendanaan tersebut,” jelas Suhindarto.
Kelima, Pefindo melihat likuiditas lembaga keuangan akan relatif ketat sedangkan dunia bisnis memiliki potensi pertumbuhan permintaan. Hal ini mendorong perusahaan untuk mencari alternatif dana dengan tenor yang lebih panjang daripada pinjaman perbankan, seperti obligasi korporasi.
Risiko Global
Pencarian pinjaman yang lebih panjang nantinya bisa mendukung asset-liability keuangan suatu perusahaan tersebut. “Namun di samping peluang tersebut kami juga masih melihat tantangan yang ada gitu, terutama dari sisi global,” sambung Suhindarto.
Risiko geopolitik diperkirakan masih tinggi tahun ini, seiring kondisi perang di beberapa wilayah seperti Timur Tengah dan Eropa Timur yang masih berlanjut. Hal ini membuat pasar surat utang lebih volatil dan premi yang diminta investor menjadi lebih besar.
Baca Juga
Pejabat Fed Ingatkan Tarif Trump Dapat Menyebabkan Penurunan Aktivitas Ekonomi di Musim Panas
Kondisi ketidakpastian di tingkat global juga meningkat, terutama karena perang dagang dan pelonggaran moneter Amerika Serikat (AS) yang lebih lambat. Hal ini berpotensi menyebabkan fluktuasi nilai tukar dan membuat imbal hasil (yield) surat utang sulit turun.
Rencana penerbitan surat utang pemerintah yang diperkirakan lebih besar tahun ini, juga akan ikut menahan penurunan level yield di pasar surat utang.
“Seiring dengan nilai surat utang jatuh tempo pemerintah tahun ini yang meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu. Dari sisi kebutuhan anggaran untuk menutup defisit tahun ini juga ditargetkan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya,” tutup Suhindarto.

