Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi Tembus Rp 160,1 Triliun, Tumbuh 68,65%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pasar surat utang korporasi Indonesia mencatat kinerja yang impresif hingga akhir kuartal ketiga tahun 2025. Total penerbitan surat utang mencapai Rp 160,1 triliun, melonjak 68,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp 94,9 triliun.
Lonjakan ini terutama dipicu oleh peningkatan signifikan pada penerbitan obligasi dan sukuk korporasi.
Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto menjelaskan dalam paparan daring, Kamis (16/10/2025), bahwa tren penerbitan tahun ini menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
“Terbukti kalau kita bandingkan dengan triwulan III 2024 lalu, total penerbitan di tahun 2025 ini hingga akhir kuartal ketiga sudah mencapai Rp 160,1 triliun, tumbuh 68,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya.
Dari total penerbitan tersebut, porsi terbesar berasal dari instrumen obligasi dan sukuk korporasi yang mencapai Rp 159,1 triliun atau naik sekitar 70,37 persen dibandingkan tahun lalu yang berada di kisaran Rp 93,4 triliun. Sementara itu, instrumen Medium Term Notes (MTN) mencatatkan penurunan dari sekitar Rp 1 triliun pada kuartal III 2024 menjadi hanya Rp 0,8 triliun atau Rp 800 miliar pada tahun ini.
Baca Juga
Suku Bunga Turun, Penerbitan Surat Utang Korporasi untuk Refinancing Meningkat Tajam
Instrumen sekuritisasi juga mengalami pelemahan dengan total penerbitan sebesar Rp 0,2 triliun, turun sekitar 70% dari Rp 0,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Suhindarto menegaskan bahwa faktor pendorong utama pertumbuhan pasar surat utang korporasi tahun ini berasal dari penerbitan obligasi dan sukuk yang mendominasi pasar.
Dari sisi sektor penerbit, lembaga keuangan menjadi kontributor terbesar dengan total penerbitan Rp 31,9 triliun dari 11 perusahaan hingga akhir September 2025. Di peringkat kedua terdapat sektor multifinance dengan penerbitan senilai Rp 29,3 triliun dari 16 perusahaan, yang seluruhnya berbentuk obligasi dan sukuk dengan dominasi obligasi.
Sektor pulp and paper menempati peringkat ketiga dengan nilai penerbitan Rp 25,1 triliun dari 4 perusahaan, disusul sektor pertambangan dengan Rp 21,4 triliun dari 12 perusahaan.
Sementara itu, sektor pembiayaan non-multifinance mencatatkan Rp 15,8 triliun dari 2 perusahaan. Sektor telekomunikasi dan lembaga keuangan khusus seperti SME dan SMF juga turut berkontribusi dalam penerbitan surat utang korporasi tahun ini.

