Penerbitan Surat Utang Korporasi Kuartal I-2025 Naik 77%, Capai Rp 46,7 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, total penerbitan surat utang korporasi di Indonesia secara keseluruhan sepanjang kuartal I-2025 mencapai Rp 46,7 triliun. Jumlah ini, naik 77% (yoy) dibandingkan realisasi kuartal I-2024 sekitar Rp 25,1 triliun.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto menyebutkan bahwa Rp 46,4 triliun nilai penerbitan surat utang tersebut merupakan instrumen berbentuk obligasi korporasi dan sukuk.
“Secara keseluruhan memang pertumbuhan penerbitan tahun ini dibandingkan kuartal pertama tahun lalu bisa dibilang sangat baik karena bisa tumbuh di sekitar 77%,” tutur Suhindarto pada konferensi pers secara virtual, baru-baru ini.
Selain obligasi dan sukuk, ada pula penerbitan instrumen medium term notes MTN senilai total Rp 400 miliar yang lebih rendah dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 700 miliar.
“Sejauh ini kami juga belum melihat adanya penerbitan untuk efek utang lainnya, seperti perpetual bonds, surat berharga komersial, dan juga sekuritisasi. Sedangkan tahun lalu ada sekitar Rp 500 miliar yang diterbitkan pada kuartal I-2024,” sambung Suhindarto.
Baca Juga
Pefindo: Efisiensi Anggaran Tak Akan Kurangi Pasokan Surat Utang Pemerintah
Sementara itu, sektor dengan nilai penerbitan surat utang korporasi paling besar berasal dari pulp and paper, yaitu Rp 13,2 triliun terbagi atas obligasi Rp 8 triliun dan sukuk Rp 5,1 triliun.
Nilai penerbitan surat utang tersebut disusul oleh sektor pertambangan, sebesar Rp 9,2 triliun oleh enam perusahaan yang didominasi instrumen obligasi lalu sukuk. Selanjutnya di posisi ketiga, terdapat sektor multifinance yang menerbitkan surat utang senilai total Rp 8,3 triliun dari enam perusahaan.
Nilai penerbitan surat utang yang cukup tinggi, yakni di atas Rp 5 triliun juga dilakukan oleh perusahaan dari sektor telekomunikasi dan perbankan, yang masing sebesar Rp 5,5 triliun dan Rp 5 triliun. Sementara sisanya, bernilai total relatif di bawah Rp 5 triliun, lebih kecil dibanding dengan nilai lima sektor teratas sebelumnya.
“Dari total Rp 46,7 triliun ini ada sekitar 72,4% yang diperingkat oleh Pefindo. Dari tujuan penerbitannya didominasi kebutuhan refinancing dari perusahaan tersebut. Disusul oleh (tujuan) modal kerja yang share-nya mencapai 41,5%,” sambung Suhindarto.
Urutan sektor perusahaan yang diperingkat Pefindo, hampir sama total nilai penerbitan surat utang mereka. Perusahaan terbanyak yang diperingkat Pefindo berasal dari sektor pulp and paper, disusul perusahaan pertambangan, perbankan, multifinance, dan telekomunikasi.
Sekitar 72,4% surat utang yang diperingkat Pefindo pada kuartal I-2025, mencerminkan nilai surat utang sebesar Rp 33,8 triliun oleh sekitar 20 perusahaan.

