Saham PGN (PGAS) Tersengat Sentimen Positif Wacana Impor Gas dari AS, Berikut Rekomendasinya
JAKARTA, investortrust.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN mendapatkan sentimen positif terkait rencana pemerintah untuk mengimpor LPG dan LNG dari Amerika Serikat (AS). Impor tersebut bagian dari negosiasi pemerintah Indonesia atas kebijakan tarif resiprokal Donald Trump sebanyak 32% untuk impor Indonesia.
Pemerintah dalam negosiasinya berencana mengurangi surplus perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) bernilai US$ 17,9 miliar. Salah satu opsi yang disiapkan pemerintah adalah menggenjot impor produk LPG dan LNG dari AS.
Baca Juga
PGN (PGAS) Bukukan Kenaikan Laba Atribusi Entitas Induk 22%, Penopangnya Ini
“Kami meyakini bahwa persetujuan impor LNG dari Amerika Serikat akan mendongkrak volume suplai gasi PGAS yang akan berdampak terhadap peningkatan volume penjualan gas perseroan,” tulis analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, akhir pekan lalu.
Estimasi Kinerja Keuangan PGAS
Sumber: Sucor Sekuritas
PGAS berencana mendatangkan 20 kargo gas tahun ini atau setara dengan 20% dari total suplai gas perseroan. Langkah ini bagian dari penurunan suplai gas, khususnya dari Jawa Barat. Berdasarkan analisa sensitif, setiap peningkatan penjualan volume pgas sebanyak 10% bisa menaikkan laba sebanyak 5%.
Selain sentimen positif dari impor gas, Niko mengatakan, pergerakan harga saham PGAS akan ditopang rencana pembagian dividen tahun buku 2024. Dengan asumsi rasio pembagian dividen sebanyak 70%, imbal hasil (dividend yield) PGAS bisa mencapai 10%. Hal ini tentu akan menggiurkan pemegang saham.
Baca Juga
Bisnis Baru dan Buyback Obligasi Dongkrak Kinerja PGN (PGAS), Capex Rp 5 Triliun
Sejumlah faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas merekomendasikan beli saham PGAS dengan target harga Rp 2.180. Target tersebut juga mengimplikasikan perkiraan PE tahun ini sekitar 9,7 kali dan EV/EBITDA sekitar 3,2 kali.
Terkait kinerja keuangan, Sucor Sekuritas menargetkan laba bersih PGAS mencapai US$ 330 juta tahun ini, dibandingkan realisasi tahun sebelumnya US$ 339 juta. Penjualan perseroan juga diproyeksikan meningkat dari US$ 3,78 miliar menjadi US$ 3.95 miliar.

