Adaro Andalan (AADI) akan Buy Back Saham Rp 4 Triliun, Manajemen Ungkap Alasan Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) merancang pembelian kembali (buy back) saham dengan anggaran Rp 4 triliun. Aksi ini rencananya dilakukan dalam 12 bulan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham.
Manajemen AADI dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin menyebutkan bahwa aksi korporasi ini rencananya dilakukan selama 12 bulan terhitung sejak 23 Mei 2025 setelah mendapatkan persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) perseroan pada 22 Mei 2025.
Baca Juga
Fundamental Ekonomi Nasional Solid, Boy Thohir Borong Saham Adaro Andalan (AADI)
Manajemen AADI mengungkap alasan buy back saham, yaitu perseroan memiliki kesempatan dan fleksibilitas untuk melaksanakan buy back saham setiap saat berdasarkan kondisi pasar dalam jangka waktu paling lama 12 bulan. Pembelian kembali saham juga diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham, sehingga harga saham AADI diharapkan dapat mencerminkan nilai fundamentalnya.
“Adaro Andalan (AADI) juga berharap dengan buy back saham akan memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi para pemegang saham serta meningkatkan kepercayaan investor, sehingga harga saham AADI dapat mencerminkan kondisi fundamental yang sebenarnya,” ujarnya dalam penjelasan resminya di BEI, Selasa (14/4/2025).
Sebelumnya, Laba bersih PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) periode 2024 naik 5,85% menjadi US$ 1,21 miliar atau setara dengan Rp 19,56 triliun berdasarkan kurs jisdor per 31 Desember 2024.
Sebelumnya, anak usaha PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tersebut membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 1,14 miliar sepanjang 2024.
Baca Juga
“Kami senang karena dapat melaporkan satu lagi tahun dengan kinerja yang memuaskan, dengan pencapaian yang lebih tinggi dalam volume pengupasan lapisan penutup, produksi, maupun penjualan,” ungkap Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Andalan Indonesia Julius Aslan.
Laba bersih perseroan naik, di tengah penurunan pendapatan sekitar 10% (yoy) menjadi menjadi US$ 5,31 miliar akibat pelemahan harga batu bara. Pasalnya, Adaro Andalan (AADI) sebenarnya mencetak rekor produksi dan penjualan yang masing-masing naik 8% dan 7% atau sebesar 65,82 juta ton dan 68,06 juta ton. Jumlah ini melampaui target yang berkisar 61-62 juta ton.
Peningkatan kinerja operasional itu pun diopset dengan penurunan 17% pada rata-rata harga jual (average selling price/ASP) batu bara AADI. Dari total pendapatan US$ 5,31 miliar tersebut, Adaro Andalan mengeluarkan beban pokok pendapatan sebesar US$ 3,85 miliar yang juga turun yakni 8% (yoy). Penurunan beban, terutama karena biaya royalti kepada pemerintah yang dibayarkan Adaro Indonesia (AI) berkurang dibandingkan tahun sebelumnya, akibat penurunan ASP.

