IHSG Tertekan Isu Tarif Trump, BP Jamsostek Siap Tambah Muatan
JAKARTA, investortrust.id – BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK) atau BPJS Jamsostek memberikan signal akan masuk pasar saham sebagai strategi ekspansi portofolio investasi, seiring dengan peluang dan prospek ekonomi jangka panjang yang positif dan valuasi saham yang sudah terdiskon.
Sebagaimana diketahui sejumlah pelaku pasar memperkirakan kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan hari pertama usai libur lebaran, Selasa (8/4/2025). Peluang kejatuhan tersebut terseret sentimen negative global kebijakan resiprokal impor Presiden AS Donald Trump yang akan diterapkan mulai 9 April 2025.
Baca Juga
Cek! BEI Mendadak Ubah Ketentuan Soal ARB Saham dan Trading Halt IHSG
Kebijakan baru negara Adi Daya tersebut langsung direspons negative seluruh bursa saham dunia dengan kejatuhan indeks saham seluruh negara, tak terkecuali Indonesia diprediksi terimbas. Apalagi tarif resiprokal kali ini ternyata tidak hanya menyasar Tiongkok dan negara-negara Uni Eropa sebagai mitra dagang, tetapi negara-negara Asia Tenggara, seperti Vietnam, Malaysia, Filipina dan bahkan Indonesia dikenaikan tarif impor besar lebih dari 32%.
Kebijakan tersebut telah membuat indeks saham Asia melemah signifikan kemarin, seperti Hang Seng (Hong Kong) jatuh dengan pelemahan 13% pada perdagangan awal pekan ini. Sementara indeks Nikkei (Jepang), Shang Hai Composite (China) dan Straits Times (Singapura) melemah lebih dari 7% dalam sehari.
Baca Juga
Tarif Trump Ancam Industri Indonesia, Ekonom Harap BI Pangkas Suku Bunga
Di tengah kekhawatiran ini, lembaga pengelola dana publik pelat merah, seperti BPJS TK justru melihat peluang emas untuk menadah saham saham berkinerja bagus dan berfundamental kuat tapi salah harga (undervalued).
Direktur Pengembangan Investasi BPJS TK Edwin Ridwan menilai, potensi koreksi IHSG hari ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan, karena isu kebijakan tarif AS dan perang dagang bukanlah hal yang baru. “Presiden Trump mengumumkan kebijakan tarif pada 3 Maret 2025, saat pasar saham Indonesia libur. Memang ada peluang koreksi akibat sentimen global yang kurang kondusif dan dampak libur panjang momentum Hari Raya Idul Fitri. Namun koreksi diharapkan bersifat temporer, karena fundamental ekonomi dan perusahaan-perusahaan publik dalam negeri dalam kondisi solid,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Jadi Peluang
Edwin menambahkan kondisi koreksi seperti ini justru memberikan peluang yang atraktif untuk mengakumulasi saham-saham dengan kinerja bisnis yang kuat apalagi dengan valuasi yang menarik.
“Kalau dilihat dari pengalaman historis 1998 (Asian Financial Crisis), 2008 (subprime mortgage meltdown), atau 2020 (covid sell off) setiap market turun signifikan adalah masa yang paling tepat untuk beli saham. Trump tariff sell off sekarang akan menjadi momen emas bagi investor untuk membeli saham dengan harga murah” ujar Edwin.
Baca Juga
Wall Street Masih Terguncang Tarif Trump, Dow Jones Anjlok Lebih dari 300 Poin
Edwin juga menekankan bahwa pembelian saham merupakan suatu bentuk vote of confidence atas prospek jangka panjang ekonomi Indonesia. BP Jamsostek dengan peserta yang mayoritas adalah pekerja muda mempercayai bahwa ekonomi indonesia memiliki prospek yang relatif lebih baik, dibanding negara lain.
Terkait hal tersebut, tahun 2025, BPJS TK memberikan sinyal bahwa strategi ekspansi portofolio investasi ke saham akan ditingkatkan seiring dengan peluang dan prospek ekonomi jangka panjang yang positif dan valuasi saham yang sudah terdiskon.
Untuk diketahui, total dana kelolaan BPJS TK hingga Februari 2025 mencapai Rp 790,8 triliun. Dari jumlah tersebut sebanyak 6,41% ditempatkan dalam instrument saham. Alokasi ini masih jauh di bawah ambang batas maksimum investasi saham yaitu 50% dari total dana kelolaan berdasarkan regulasi yang berlaku.
Baca Juga
BP Jamsostek Optimistis Dana Kelolaan Tembus Rp 1.000 Triliun di 2026
Perlu diketahui BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek adalah badan hukum publik yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan bukan perusahaan atau korporasi seperti BUMN.
Memang posisi alokasi saham BPJS TK tersebut jauh lebih rendah, dibandingkan dengan tahun 2021 mencapai 15,9%, karena pada saat itu strategi investasi pengelola dana tersebut adalah mengurangi eksposur ke aset saham. Namun mulai tahun ini, sesuai rencana perusahaan, ekspansi portofolio investasi saham bakal lebih ditingkatkan.

