Efek Tarif Impor Trump, Wall Street Terjun ke Jurang 'Merah' hingga Bursa Eropa Hancur Lebur
JAKARTA, investortrust.id - Indeks bursa saham global mencatatkan koreksi cukup dalam usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan perluasan tarif impor untuk sejumlah negara yang menyebabkan neraca perdagangannya defisit pada 2 April kemarin.
Berdasarkan data yang dihimpun DataTrust, berdasarkan penutupan indeks saham global pada 2 April hingga 4 April 2025, indeks saham Amerika Serikat atau Wall Street anjlok dengan Indeks saham Nasdaq Composite mengalami kontraksi paling dalam, sebesar 11,4% atau tergelincir 2.013 poin.
Kontraksi yang tak kalah hebat juga dialami oleh indeks Small Cap 2000 yang mengalami penurunan sebesar 10,7% atau sebesar 218 poin dari 2.045. Kemudian ada S&P 500 yang terjun bebas senilai 597 poin atau sebesar 10,5%.
Perusahaan-perusahaan S&P 500 kehilangan nilai pasar saham sebesar US$ 5 triliun, sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif yang lebih luas. Menurut Reuters, investor melarikan diri ke tempat yang aman dalam obligasi pemerintah.
Baca Juga
S&P 500 Catatkan Aksi Jual US$ 5 triliun Dalam Dua Hari Setelah Pengumuman Tarif Trump
Tak sampai di situ, kehancuran indeks saham juga menghantam Dow Jones yang rontok sebanyak 3.910 poin atau mengalami penurunan sebesar 9,3%.
Selain pasar saham Amerika Serikat, bursa saham Eropa juga harus masuk jurang merah. Kondisi ini terlihat dari indeks OMXC25 Denmark yang terkontraksi hingga 8,5% atau turun dari 1.660 ke 1.519 poin.
Kemudian adapula FTSEMIB Italia yang anjlok 9,9% atau turun sebesar 3.805 poin dari 38.454 menjadi 34.649. Hal yang sama juga dialami oleh DAX Jerman yang terkoreksi sebesar 7,8% atau menurun sebanyak 1.749 poin dari 22.391 ke 20.642.
Indeks Eropa lainnya yang juga berguguran di antaranya ada WIG20 Polandia dengan penurunan terdalam sebesar 10,2%, kemudian CAC 40 Prancis anjlok 7,4%, OMXS30 Swedia sebesar 7,7% dan IBEX 35 Spanyol sebesar 7,0%.
Lantas bagaimana dengan pasar Asia? Untuk Indonesia sendiri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi ditutup pada 27 Maret dan akan dibuka kembali pada Selasa, 8 April 2025 dikarenakan adanya libur Hari Raya Idulfitri.
Untuk pasar Asia, Nikkei 225 Jepang mengalami kontraksi cukup dalam, yakni sebesar 5,5% atau turun sebanyak 1.945 poin dari 35.726 menjadi 33.781. Selanjutnya, ada VN 30 Vietnam yang mencatatkan penurunan hingga 7%.
Sedangkan China juga mengalami hal serupa, namun nilai penurunannya masih dikisaran 1%, yakni di antaranya SZSE Component, China A50, DJ Shanghai, hingga Shanghai.
Baca Juga
Dampak Tarif Trump ke Pasar Modal Dipercaya Kecil, Ini Penopang IHSG Pekan Depan
Menanggapi potensi pergerakan bursa saham di Tanah Air, Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe menjelaskan, dampak penetapan tarif impor dari Indonesia ke AS tidak akan banyak menekan pertumbuhan ekonomi Tanah Air, sekaligus IHSG. Mengingat, jumlah ekspor Indonesia ke AS terbilang sedikit.
Meski IHSG masih berpotensi melemah pekan depan, dia berkeyakinan sentimen domestik mampu menahan penurunan indeks atau bahkan menaikkannya. Pasalnya, sejumlah sentimen domestik yang menggoyang keyakinan investor beberapa waktu terakhir, mulai menunjukkan titik terang.
“Tarif Trump itu dampaknya akan kecil sekali karena dari sebelum-sebelumnya kan yang mengguncang IHSG itu kebanyakan sentimen dalam negeri,” ujar Kiswoyo kepada Investortrust.id, Kamis (3/4/2025).
Baca Juga
IHSG Berpotensi Tertekan Akibat Tarif Trump, Sektor Saham Ini Paling Terdampak
Senada dengan Didit, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi melihat skenario bearish tambahan untuk IHSG jika inflasi AS meningkat dan pemangkasan The Fed mundur, sehingga depresiasi Rupiah berlanjut, dan BI rate kemungkinan sulit untuk diturunkan dan berdampak pada cost of fund yang tinggi. “Alhasil, permintaan dan ekspansi dari emiten diperkirakan melambat hingga akhir 2025,” ucap Audi kepada investortrust.id Kamis, (3/4/2025).
Tak hanya Didit dan Audi, Analis Pasar Modal Hans Kwee juga mengutarakan, salah satu penyumbang surplus ke neraca perdangan Indonesia berasal dari AS, maka penerapan tarif impor hingga 32 % tentu akan berdampak negatif bagi ekonomi Indonesia.
“Tarif AS ke China 34 % dan tarif Indonesia 32% semua negatif bagi ekonomi dan pasar saham Indonesia. Tetapi kita masih berharap Trump menurunkan tarifnya ke Indonesia,” ujar Hans kepada investortrust.id.

