Pekan Terburuk BEI, IHSG Anjlok 5,16% hingga Saham Emiten Prajogo Hancur Lebur
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) turun sebanyak 367 poin (5,16%) menjadi 6.742 sepanjang pekan ini atau 3-7 Februari 2025. Pelemahan terparah berlangsung dalam tiga hari terakhir.
Sedangkan IHSG, Jumat (7/2/2025), ditutup melemah sebanyak 1,93% ke level 6.742,57. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, penurunan dipengaruhi atas aksi investor mencerna rilis data ekonomi Indonesia tahun 2024 yang meskipun tumbuh di atas ekspektasi pasar, namun stagnan di level 5,03% secara tahunan (yoy) atau sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya yang sebesar 5,05% yoy.
Baca Juga
Begini Upaya OJK Pastikan Peralihan Pengawasan dari Bappebti Berjalan Lancar
Penurunan juga dipicu faktor, kata Andry, dinamika kebijakan Trump, terutama terkait tarif dan ekspektasi terhadap prospek penurunan suku bunga The Fed yang lebih moderat, karena outlook inflasi AS masih di atas target dan kondisi pasar tenaga kerja yang masih ketat.
"Penurunan harga komoditas, seperti minyak mentah dan nikel terkoreksi, ikut menjadi sentimen negative terhadap indeks saham energi dan mineral di Indonesia," kata Andry dalam risetnya Jumat, (7/22/2025).
Tak hanya itu, lanjut Andry, penurunan indeks dipengaruhi atas aksi jual (net sell) saham oleh pemodal asing sebesar Rp 4,7 triliun. Aksi jual tersebut dipicu oleh kekhawatiran asing terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama kondisi daya beli pada kelas menengah ke bawah yang masih lemah.
Baca Juga
IHSG Ditutup Terpuruk 132 Poin ke Level Terendah dalam 8 Bulan Terakhir
"Hal tersebut terlihat dari capaian inflasi inti yang masih stagnan sebesar 2,3%, namun sebagian besar akibat faktor kenaikan harga emas," terang dia.
Kinerja Bank
Selain itu, ujar Andry, rilis laporan keuangan bank yang di bawah ekspektasi pasar, ditambah dengan dinamika kebijakan fiskal yang berpotensi menekan likuiditas perbankan, memberikan sentimen negatif kepada pasar.
Andry merinci, adapun sektor saham penyumbang terbesar terhadap koreksi berasal dari saham bank dengan koreksi penurunan terdalam melanda saham BMRI, BBNI, BBRI, dan BBCA.
Baca Juga
Bank Sentral India Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Pertama Kali dalam 5 Tahun
Koreksi juga dipicu atas koreksi dalam saham-saham emiten Prajogo Pangestu, seperti BREN turun 19,94% menjadi Rp 7.025, CUAN anjlok 19,96% menjadi Rp 11.325, PTRO turun 24,91% menjadi Rp 2.880, TPIA anjlok 19,44% menjadi Rp 6.525, dan BRPT melemah 10,44% menjadi Rp 815.
"Kami memperkirakan dalam jangka pendek volatilitas di pasar saham berpotensi berlanjut. Hal tersebut dipicu oleh berbagai sentimen global, terutama terkait prospek pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih pesimis dengan pasar yang mulai mengantisipasi peluang pemangkasan sebesar 25 bps tahun ini," papar Andry.
Grafik IHSG Sepekan

