Dampak Tarif Trump ke Pasar Modal Dipercaya Kecil, Ini Penopang IHSG Pekan Depan
JAKARTA, investortrust.id – Pembaruan tarif impor Amerika Serikat (AS) yang baru saja diumumkan Presiden AS Donald Trump dipercaya berdampak kecil terhadap pergerakan Pasar Modal Indonesia. Analis bahkan menyebut, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan lebih ditopang oleh beragam sentimen domestik.
Trump resmi mengenakan tarif resiprokal terhadap Indonesia sebesar 32%. Indonesia masuk dalam daftar 60 negara yang dianggap mengganggu kepentingan ekonomi domestik AS. Indonesia dianggap memberikan tarif sebesar 64% terhadap produk-produk AS.
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe menjelaskan, dampak penetapan tarif impor dari Indonesia ke AS tidak akan banyak menekan pertumbuhan ekonomi Tanah Air, sekaligus IHSG. Mengingat, jumlah ekspor Indonesia ke AS terbilang sedikit.
“Tarif Trump itu dampaknya akan kecil sekali karena dari sebelum-sebelumnya kan yang mengguncang IHSG itu kebanyakan sentimen dalam negeri,” ujar Kiswoyo kepada Investortrust.id, Kamis (3/4/2025).
Sedangkan dampak tidak langsung dari tingginya tarif impor barang China ke AS, terhadap Indonesia juga diakui tak perlu dikhawatirkan. Meski jumlah ekspor Indonesia ke China cukup banyak, mencapai US$ 62,43 miliar tahun lalu.
“China sudah mempersiapkan diri dan banyak melakukan antisipasi, seperti meningkatkan ekspor ke negara lain. Buktinya pertumbuhan ekonomi China masih bisa 5% tahun lalu,” tutur Kiswoyo.
Meski IHSG masih berpotensi melemah pekan depan, dia berkeyakinan sentimen domestik mampu menahan penurunan indeks atau bahkan menaikkannya. Pasalnya, sejumlah sentimen domestik yang menggoyang keyakinan investor beberapa waktu terakhir, mulai menunjukkan titik terang.
Sentimen dimaksud, meliputi isu pembentukan Danantara yang akhirnya memberi kejelasan, seperti penetapan jajaran pengurus Sovereign Wealth Fund (SWF) tersebut. Kiswoyo berharap, pengelola kekayaan negara ini segera membeli saham seperti BBRI, BMRI, dan TLKM setelah mendulang dividen dari sejumlah BUMN.
“Apalagi harganya sedang murah. Sehingga nanti bisa menunjukkan ke masyarakat bahwa Danantara sudah bisa untung loh,” tambah dia.
Selain itu, pasar saham juga menanti penempatan dana BPJS ketenagakerjaan yang diharap meningkat dari kisaran 6% menjadi setidaknya 10%. Mengutip data BPJS Ketenagakerjaan, jumlah dana kelolaan (asset under management/AUM) mereka per September 2024 ada Rp 776,8 triliun.
Dengan begitu, bila 10% saja AUM BPJS Ketenagakerjaan dipakai untuk mengakumulasi saham seperti BBRI, BMRI, hingga TLKM maka akan menciptakan arus masuk sekitar Rp 7 triliun ke pasar saham. Saham-saham berkapitalisasi pasar besar yang dibeli BPJS pun dapat mendongkrak IHSG.
Berdasarkan perhitungan-perhitungan tersebut, Kiswoyo memperkirakan IHSG dapat bergerak di kisaran 6.250-6.750 hingga akhir April 2025. Sedangkan pada akhir tahun ini, dia menilai, bukan tidak mungkin IHSG mampu terdongkrak ke level 7.250 dengan perbaikan sejumlah sentimen domestik.

