IHSG Berpotensi Tertekan Akibat Tarif Trump, Sektor Saham Ini Paling Terdampak
JAKARTA, investortrust.id - Sejumlah analis pasar modal menilai kebijakan tarif impor baru yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan berpotensi menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdangangan pekan depan di 8 April 2025, hal ini juga turut memberikan dampak pada sejumlah sektor saham.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana alias Didit mencermati dampak dari tarif resiprokal yang diumumkan oleh Trump akan cenderung negatif, baik secara global termasuk Indonesia.
“Dari sisi pasar modal sendiri, IHSG rawan tertekan seperti hal-nya bursa regional Asia yang hari ini tertekan setelah pengumuman tarif tersebut,” kata Didit saat dihubungi investortrust.id Kamis, (3/4/2025).
Adapun respons dari pasar saham serentak cenderung negatif hari ini, seperti indeks Nikkei merosot 3,07%, SENSEX turun 0,38%, SET melemah 1,4%, HNX anjlok 6,91%. Bahkan US500 future merespon ketidakpastian dengan melemah 2,8%.
Senada dengan Didit, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi melihat skenario bearish tambahan untuk IHSG jika inflasi AS meningkat dan pemangkasan The Fed mundur, sehingga depresiasi Rupiah berlanjut, dan BI rate kemungkinan sulit untuk diturunkan dan berdampak pada cost of fund yang tinggi.
“Alhasil, permintaan dan ekspansi dari emiten diperkirakan melambat hingga akhir 2025,” ucap Audi kepada investortrust.id Kamis, (3/4/2025).
Tak hanya Didit dan Audi, Analis Pasar Modal Hans Kwee juga mengutarakan, salah satu penyumbang surplus ke neraca perdangan Indonesia berasal dari AS, maka penerapan tarif impor hingga 32 % tentu akan berdampak negatif bagi ekonomi Indonesia.
Baca Juga
“Tarif AS ke China 34 % dan tarif Indonesia 32% semua negatif bagi ekonomi dan pasar saham Indonesia. Tetapi kita masih berharap Trump menurunkan tarifnya ke Indonesia,” ujar Hans kepada investortrust.id.
Sementara itu, Audi melihat dari nilai dan produk ekspor ke AS, maka yang terdampak langsung atas kebijakan tarif impor tersebut adalah perusahaan tekstil dan manufaktur.
“Tetapi jika menilai dampak, seperti pelemahan Rupiah dan potensi current account deficit (CAD) yang meningkat maka ini akan berdampak pada emiten berkategori cyclical,” ujarnya.
Sektor siklikal (cyclical) dimaksud di antaranya sektor perkebunan, pertambangan, industri dasar, aneka industri, properti, penerbangan, dan pariwisata.
Selain itu, Audi memaparkan data surplus perdagangan nonmigas terbesar Indonesia adalah dengan Amerika Serikat yang mencapai US$ 16,84 miliar, dengan kontribusi 54% dari total surplus dagang sepanjang tahun 2024 Indonesia.
Berdasarkan segmen produk, yang paling banyak diekspor adalah tekstil dan produk tekstil (TPT) dan juga alas kaki. Eksportir serupa juga dikenakan tarif tinggi oleh Trump, seperti Vietnam, Bangladesh dan China. “Sehingga kami melihat potensi supply akan meningkat di Asia karena produk dari China dan Vietnam, berpotensi masuk ke Indonesia,” ungkap Audi.
Sebagai informasi, Trump mengenakan tarif impor sebesar 10% untuk seluruh produk negara-negara yang masuk ke AS, dan disusul tarif tambahan pada beberapa negara Asia seperti Kamboja 49%, Vietnam 46%, Thailand 36%, China 34% dan Indonesia 32%. Kawasan lainnya , adalah Uni Eropa 20%, India 26%, Japan 24%, Korea Selatan 25% dan UK 10%.

