Wall Street Hancur Lebur Setelah Serangan Israel-Iran, Dow Anjlok Lebih dari 750 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat mencatat penurunan tajam pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (14/6/2025), setelah Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke Iran yang langsung memicu lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik. Ketegangan yang meningkat ini menambah tekanan pada pasar yang sudah dibayangi inflasi dan risiko global lainnya.
Baca Juga
Israel Lancarkan Serangan Udara ke Iran, Picu Ketegangan Regional
Dow Jones Industrial Average anjlok 769,83 poin atau 1,79% ke 42.197,79, sedangkan S&P 500 turun 1,13% ke 5.976,97. Nasdaq Composite kehilangan 1,30% dan ditutup di level 19.406,83.
Saham-saham teknologi unggulan yang sebelumnya menjadi pendorong pemulihan pasar dari titik terendah April mulai melemah. Nvidia dan sejumlah emiten berbasis AI mengalami aksi ambil untung. Sebaliknya, saham sektor energi dan pertahanan justru melonjak: ExxonMobil naik 2%, sedangkan Lockheed Martin dan RTX masing-masing melonjak lebih dari 3%.
Pelemahan pasar dimulai sejak Kamis malam waktu setempat, menyusul pengumuman Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz tentang status darurat khusus setelah serangan Israel ke wilayah Iran. Dua pejabat AS menyebutkan bahwa militer Amerika tidak terlibat dalam operasi tersebut, menurut laporan NBC News.
Situasi makin panas ketika Iran, pada Jumat, meluncurkan rudal sebagai serangan balasan terhadap Israel. Media pemerintah Iran menyatakan bahwa negara tersebut tidak akan mengikuti putaran keenam negosiasi nuklir dengan AS yang dijadwalkan akhir pekan ini di Oman.
Baca Juga
Israel Hantam Fasilitas Nuklir Iran, Teheran Balas dengan Serangan Drone
Ketegangan ini langsung mendorong lonjakan harga komoditas. Futures minyak Brent dan WTI melesat lebih dari 7%, dengan harga WTI sempat mendekati US$74 per barel. Harga emas pun menembus level tertinggi dua bulan terakhir, karena investor mencari perlindungan di aset safe haven.
“Konflik ini menambah beban baru di tengah segudang kekhawatiran pasar yang belum mereda. Lonjakan harga minyak, jika berlanjut, akan berdampak cepat pada angka inflasi,” ujar Mark Malek, Chief Investment Officer di Siebert Financial, seperti dikutip CNBC.
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump mendesak Iran agar kembali ke meja perundingan. Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump memperingatkan bahwa kehancuran bisa semakin besar jika tidak ada kesepakatan nuklir segera.
“Saya beri Iran kesempatan kedua. Dua bulan lalu saya beri ultimatum 60 hari untuk mencapai kesepakatan. Mereka seharusnya mengambilnya! Hari ini adalah hari ke-61,” tulis Trump.
Di sisi lain, data ekonomi domestik menunjukkan perbaikan. Survei Sentimen Konsumen Universitas Michigan naik menjadi 60,5 di bulan Juni, jauh di atas estimasi Dow Jones sebesar 54, dan naik 15,9% dibanding bulan sebelumnya. Namun, sentimen positif ini tak cukup membendung aksi jual pasar.
Untuk sepanjang pekan, ketiga indeks utama ditutup melemah. S&P 500 turun 0,4%, Nasdaq terkoreksi 0,6%, dan Dow Jones tertekan 1,3%. Pasar kini bersiap menghadapi risiko jangka pendek yang lebih tinggi di tengah ketidakpastian arah negosiasi nuklir dan potensi konflik berskala regional di Timur Tengah.

