Trump Tetapkan Tarif Impor, Pengamat : IHSG Berpotensi Anjlok hingga 3%
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi turun sebesar 2-3% saat pembukaan perdagangan saham pada 8 April 2025 mendatang.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penurunan IHSG tersebut dipicu dari sentimen tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terhadap semua negara, termasuk Indonesia. Kebijakan ini menyebabkan ketidakpastian di pasar global dan berdampak negatif terhadap IHSG.
Baca Juga
Tarif Trump Berkisar antara 10% hingga 49%, Ini Pernyataan Lengkap Trump
“Untuk IHSG kemungkinan besar dalam pembukaan pasar akan turun 2-3%,” kata Ibrahim saat dihubungi investortrust.id Kamis, (3/4/2025).
Menurut Ibrahim, hal ini mengindikasikan bahwa BEI beserta Self Regulatory Organizatio (SRO) harus berhati-hati melakukan pengawasan secara jeli tentang perang dagang yang berdampak negatif terhadap IHSG secara global.
“Bukan terhadap IHSG di Indonesia saja, tapi secara global ini mengalami satu permasalahan dan berdampak luar biasa terhadap indeks harga saham gabungan di Indonesia. Nah, IHSG kemungkinan besar dibuka melemah (pekan depan),” jelas Ibrahim.
Sebagaimana diketahui, kebijakan tarif Trump ini juga berdampak terhadap sentimen pasar global, sehingga IHSG dan bursa Asia lainnya juga terkena dampaknya. Bahkan sebelumnya Morgan Stanley menurunkan peringkat saham MSCI Indonesia dari equal weight menjadi underweight karena penilaian bahwa tingkat return on equity saham-saham di bursa domestik menunjukkan momentum penurunan.
Baca Juga
Sejalan dengan Ibrahim, Pengamat pasar modal dan founder WH Project, William Hartanto berpadangan perang dagang ini juga turut memberikan sentimen negatif pada pasar saham.
“Ini bisa menekan ekonomi juga karena Amerika Serikat itu salah satu mitra dagang besar untuk Indonesia. Efek ke IHSG pada pekan depan kemungkinan melemah,” ujar William kepada investortrust.id Kamis, (3/4/2025).
Selain berdampak pada pasar saham, perang dagang ini, ujar Ibrahim, akan menyebabkan fluktuasi dolar yang luar biasa, sehingga berdampak negatif terhadap mata uang rupiah. Ibrahim memprediksikan Rupiah kemungkinan besar akan menyentuh level Rp 16.900 dalam waktu dekat.
Baca Juga
Ini 7 Langkah yang Dapat Diambil Indonesia untuk Hadapi Tarif Impor Trump
“Kenapa saya katakan Rp 16.900 dalam minggu ini? Karena memang waktu yang tinggal 2 hari ini kalau seandainya pembukaan pasar di hari Senin, Bank Indonesia baru akan melakukan intervensi, kemudian harga mata uang rupiah ini akan mengalami penguatan kembali, walaupun tidak terlalu banyak,” bebernya.
Sementara itu, efek perang dagang ini berdampak positif pada sektor komoditas khususnya emas, Ibrahim menilai ada ketakutan para investor terhadap tarif-tarif biaya impor yang dikeluarkan oleh Trump berdampak terhadap inflasi.
“Sehingga banyak investor yang melakukan safe-haven di emas, sehingga harga emas dunia malam ini melonjak ke level US$ 3.180 per troy ons. Kemungkinan besar dalam minggu ini, dalam waktu dua hari ini, harga emas dunia kembali ke level US$ 3.200 per troy ons,” tuturnya.

