Pengamat Ungkap Alasan Mobil 'Hybrid' Berpotensi Geser EV Impor di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat otomotif Yannes Martinus menilai mobil hybrid dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) tinggi berpotensi menjadi pemenang pasar di Indonesia pada 2026. Hal ini terjadi di tengah transisi cepat pasar kendaraan listrik dan perubahan struktur insentif fiskal yang memengaruhi daya saing harga antara hybrid lokal dan EV impor utuh (CBU).
Menurut Yannes, harga pembelian awal akan menjadi faktor penentu preferensi konsumen di kelas menengah. “Dari sisi harga pembelian awal, sales hybrid Jepang dengan TKDN lebih dari 65% via regulasi berpotensi untuk short term menggerus pasar EV CBU pada kelas yang sama karena EV impor utuh dipastikan mengalami lonjakan harga signifikan tanpa insentif pembebasan bea masuk dan pajak,” ujarnya kepada investortrust.id, Sabtu (3/1/2026).
Data terbaru menunjukkan bahwa pangsa pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia memang tumbuh pesat. Laporan PwC mencatat segmen EV Indonesia tumbuh sekitar 49% pada 2025, dengan adopsi EV mencapai sekitar 18% dari total penjualan kendaraan lebih tinggi dari rata-rata ASEAN. Namun, pasar otomotif konvensional justru mengalami kontraksi, menunjukkan ketidakpastian daya beli konsumen.
Baca Juga
Walau EV mencatat pertumbuhan signifikan, penjualan hybrid tetap kuat di Indonesia. Data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat sekitar 57.311 unit mobil hybrid terjual sepanjang Januari–November 2025, didominasi model Toyota dan Suzuki.
Catatan ini juga menunjukkan bahwa meskipun EV menarik minat konsumen, hybrid masih relevan dan kompetitif secara volume di segmen tertentu. Yannes menyoroti bahwa kebijakan insentif yang berubah per 2026 juga memperlebar celah kompetitif bagi kendaraan hybrid lokal.
EV impor utuh diperkirakan mengalami kenaikan harga tajam karena penghapusan pembebasan bea masuk hingga 50%, pembebasan PPnBM dan PPN DTP 10% yang berlaku sepanjang 2025. Sementara itu, hybrid lokal yang memenuhi syarat TKDN tinggi tetap mendapat manfaat regulasi dan biaya lebih rendah.
“Hybrid Jepang dengan TKDN tinggi kemungkinan akan mengalahkan EV di kelas yang sama, termasuk dibandingkan EV yang hanya memenuhi TKDN sekitar 40%,” tambah Yannes.
Baca Juga
Curi Perhatian di GJAW 2025, Toyota Veloz Hybrid Sudah Kantongi TKDN 65%
Keunggulan lain bagi hybrid adalah basis produksi lokal pabrikan Jepang yang telah matang, termasuk jaringan distribusi yang luas dan kepercayaan konsumen yang tinggi di Indonesia. Hal ini dinilai meningkatkan daya saing hybrid dalam jangka pendek, terutama di pasar kelas menengah yang sensitif terhadap harga dan biaya kepemilikan.
Namun, Yannes juga menegaskan bahwa dalam jangka panjang, EV tetap merupakan tren global dengan momentum kuat, didukung pertumbuhan penjualan BEV dan infrastruktur pengisian yang meningkat. Perubahan kebijakan yang cerdas dan dukungan terhadap TKDN komponen lokal EV dapat membantu industri ini bersaing lebih efektif.
“Siapa yang paling cepat beradaptasi dengan regulasi TKDN dan struktur insentif, dialah yang akan memimpin pasar,” pungkas Yannes, sembari menekankan pentingnya strategi fiskal dan manufaktur dalam menentukan peta kompetisi otomotif 2026 di Indonesia.

