Cum Dividen Besok, Bagaimana Prospek Saham BCA (BBCA)?
JAKARTA, investortrust.id– PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan memasuki cum dividen di pasar regular besok, Kamis (20/3/2025). Total dividen yang bakal dibagikan mencapai Rp 30,81 triliun atau setara dengan Rp 250 per saham.
Berdasarkan pengumuman resmi BBCA disebutkan bahwa dividen tahun buku 2024 tersebut akan dibagikan pada 11 April 2025 kepada pemegang saham yang namanya tercantum dalam daftar pemegang saham per 20 maret 2025.
Baca Juga
Usai Rilis Kinerja hingga Februari, Dua Sekuritas Ini Patok Target Tinggi Saham BCA (BBCA)
Meski berencana membagikan dividen dalam jumlah besar dalam waktu dekat, ternyata saham BBCA masih mencatatkan penurunan sebanyak 16,67% sepanjang year to date (ytd). Saham BBCA melemah dari level penutupan akhir tahun 2024 bernilai Rp 9.675 menjadi Rp 8.275 hingga sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (19/3/2025).
Lalu, bagaimana prospek saham BBCA jelang cum dividen ini? Analis Sucor Sekuritas Indonesia Edward Lowis mengatakan, prospek saham BBCA tetap kuat dengan potensi pertumbuhan lebih lanjut, meskipun menghadapi sejumlah tantangan tahun 2025.
“Kami tetap menyukai saham BBCA yang menggambarkan peluang berlanjutnya pertumbuhan kinerja di tengah penuh tantangan. Peluang pertumbuhan ini didukung likuiditas kuat, pendanaan yang melimpah, dan kualitas aset yang solid,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
Baca Juga
BCA Siapkan Uang Tunai Rp 70,22 Triliun di Ramadan Tahun Ini, Naik 4%
Kekuatan-kekuatan tersebut bisa membuat BBCA untuk mempertahankan pertumbuhan, meski menghadapi beragam tantangan. Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.500. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2025 sekitar 5 kali.
Sumber: Sucor Sekuritas
Terkait tahun ini, Sucor Sekuritas menyebutkan, BBCA diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan laba bersih moderat tahun ini. Laba bersih BBCA diproyeksikan bertumbuh mencapai 6,3% menjadi Rp 58,3 triliun tahun ini dan diharapkan lanjutkan peningkatan menjadi Rp 62,2 triliun pada 2026.
Peluang pertumbuhan kinerja keuangan tersebut sudah terlihat dari pencapaian BBCA sampai Februari 2025. Data keuangan perseroan mengungkap laba bersih bertumbuh sebanyak 8,4% menjadi Rp 9 triliun dalam dua bulan pertama 2025. Bahkan, tingkat pertumbuhan laba BBCA mengalahkan bank besar lainnya.
Baca Juga
Selain itu, dia mengatakan, BBCA menunjukkan margin keuntungan bersih (NIM) kuat mencaapi 6% dan pertumbuhan kredit sebanyak 14%. NIM tersebut masih stabil dan sesuai dengan target manajemen. Sedangkan rencanan perseroan mulai menaikkan bunga kredit consumer untuk menghalau kenaikan biaya kredit diharapkan membuat margin keuntungan tetap stabil.
Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.900. Target tersebut mempertimbangkan kenaikan laba bersih bank only hingga Februari 2025 sebanyak 8% menjadi Rp 8,97 triliun.
Begitu juga dengan tim riset Verdhana Sekuritas yang tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengant arget harga Rp 12.600. Target harga tersebut menggunakan analissis DuPont dengan sejumlah parameter, seperti risk free rate 6,5%m equity risk premium 7,8%, beta 0,8, dan CAR adjusted ROAE sebanyak 24,5%. Target harga ini mengimplikasikan perkiraan PB sekitar 5,4 kali.

