Reksa Dana Pendapatan Tetap Jadi Primadona Seiring Pertumbuhan Ekonomi 8%
JAKARTA, investortrust.id – CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera (Investortrust.id) Primus Dorimulu menyatakan, reksa dana pendapatan tetap akan menjadi produk primadona manajer investasi (MI) seiring target pertumbuhan ekonomi 8% di era Kepresidenan Prabowo Subianto.
“Menurut saya, selama pertumbuhan ekonomi stuck atau turun, itu (reksa dana) pasti bukan menjadi nomor satu. Namun, kalau tahun ini (pertumbuhan ekonomi) bisa menjadi 5,2%, tahun depan bisa 6%, 2027 sudah bisa 7%, 2028 atau 2029 menjadi 8%, maka reksa dana pendapatan tetap itu akan menjadi primadona,” kata Primus dalam acara "Best Mutual Fund Awards 2025" yang diselenggarakan Investortrust.id dan PT Infovesta Utama di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Baca Juga
Industri Reksa Dana Indonesia Tertinggal Jauh dari India, Apa Penyebabnya?
Berdasarkan perhitungan Datatrust, perkembangan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana pendapatan tetap mencapai Rp 148,59 triliun, disusul reksa dana terproteksi yang tercatat sebanyak Rp 118,22 triliun hingga januari 2025.
Sementara itu, perkembangan NAB reksa dana saham dan pasar uang cenderung menurun yang masing-masing berada di angka Rp 72,66 triliun dan Rp 87,29 triliun hingga Januari 2025.
Lebih lanjut, Primus memaparkan, MI telah mengantongi asset under management (AUM) sekitar Rp 806,4 triliun hingga Januari 2025 dengan jumlah investor reksa dana sebanyak 13,13 juta orang. “Saat ini ada 85 manajer investasi dengan dana kelolaan Rp 806 triliun, dan jumlah investor reksa dana 13 juta lebih,” ujar dia.
Menurut Primus, reksa dana masih menjadi produk dana kelolaan terbesar, yakni Rp 500,9 triliun, disusul oleh kontrak penempatan dana (KPD) sebesar Rp 292,85 triliun. Selanjutnya, dana investasi real estate (DIRE) sebanyak Rp 10,81 triliun dan efek beragun aset (EBA) sebesar Rp 1,83 triliun.
Strategi menuju Rp 1.000 Triliun
Seperti diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menargetkan dana kelolaan reksa dana di pasar modal mencapai Rp 1.000 triliun pada 2027 mendatang sesuai dengan peta jalan (roadmap) pasar modal Indonesia 2023-2027 yang diterbitkan sejak Januari 2023 silam.
Seiring dengan itu, Primus menjelaskan, sederet faktor yang membuat tren reksa dana di Indonesia terkesan lamban.
“Mengapa pertumbuhan reksa dana di Indonesia terbilang lamban dibandingkan dengan negara lain? Kami mencatat, pertama literasi keuangan. Kedua, budaya investasi yang belum kuat. Ketiga, kurangnya kepercayaan pasar modal. Keempat, volatilitas yang masih tinggi. Lalu, biaya dan pajak yang kurang kompetitif, distribusi produk yang belum optimal, serta persaingan dengan instrumen lainnya,” kata Primus dalam acara Best Mutual Fund Awards 2025 di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Baca Juga
Target AUM Manajer Investasi Rp 1.000 Triliun Bisa Tercapai dengan Dukungan Regulasi
Dikatakan Primus, tujuh faktor tersebut menjadi PR besar pemerintah dan para manajer investasi untuk terus mengedukasi serta mengatur ekosistem pasar modal di era Kepresidenan Prabowo Subianto.
Lebih lanjut, Primus mengungkapkan, target ambisius itu dapat dicapai dengan dukungan regulasi dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Pertama, pajak atas investasi reksa dana itu dianggap kurang mendukung. Kemudian, aturan batas kepemilikan diversifikasi portofolio. Lalu, aturan minimum dana kelolaan, proses izin dan regulasi yang terlalu ketat. Kemudian aturan tentang reksa dana yang terproteksi dan pasar sekunder yang belum menguntungkan,” papar dia.
Ihwal itu, dia optimistis target AUM Rp 1.000 triliun akan terwujud sesuai dengan peta jalan yang diterbitkan OJK. “Kemudian, kami yakin bahwa reksa dana ke depan akan bertumbuh lebih cepat, dan (target) AUM Rp 1.000 triliun itu tinggal (menunggu) waktu saja,” tutur Primus.

