Industri Reksa Dana Indonesia Tertinggal Jauh dari India, Apa Penyebabnya?
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) menyampaikan perkembangan terkait industri reksa dana paling keras dalam beberapa tahun terakhir. Pergerakan asset under management (AUM) terpantau mendatar hingga cenderung turun.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua II Bidang Investasi dan Pengelolaan Portofolio AMII Genta Wira Anjalu dalam acara Best Mutual Fun Awards 2025 yang diselenggarakan Investortrust bersama Infovesta Utama di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Baca Juga
Literasi dan Perlindungan Investor Jadi Sorotan di Best Annual Fund Awards 2025
"Tapi sebenarnya ada idea yang cukup brilliant. Tadi ada penghematan APBN sebesar Rp 300 triliun, gimana kalau dimasukkan aja ke reksa dana pasar uang aja? Target AUM reksa dana di Indonesia senilai Rp 1.000 triliun langsung tercapai. Nah jadi ini beberapa root cause-nya, memang ada beberapa yang membuat reksa dana itu mengalami flat atau stagnan," ujar Genta.
Jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia lainnya, dia mengatakan, AUM reksa dana Indonesia terhadap PDB memang sudah meningkat signifikan dari 2% ke 4%. Tapi, kalau dibandingkan dengan negara tetangga bisa dibilang raihan tersebut masih sangat rendah.
"Nah asosiasi bersama rombongan Presiden Indonesia, kita sempat berkunjung untuk melakukan studi banding ke India. Dan melakukan MoU dipimpin Ketua AMII Hanif Mantik," ungkap Genta.
Lebih lanjut, Genta menyebutkan, dalam kesempatan tersebut, AMII mempelajari banyak hal terkait perkembangan reksa dana di India. Menurutnya, investor reksa dana di India dalam dalam lima tahun terakhir tumbuh signifikan dari 19,2 juta mencapai 52,5 juta, naik 2,7 kali.
Baca Juga
Target AUM Manajer Investasi Rp 1.000 Triliun Bisa Tercapai dengan Dukungan Regulasi
"Dan secara mutual AUM secara triliun, itu naik 2,5 kali. Dari 26,5 ke 66,9. Nah peran teknologi di India bisa menjadi salah satu kuncinya. Mereka melakukan khow your costumer (KYC) secara centralized. Kalau di Indonesia, setiap MI harus memiliki KYC investor. Akhirnya investor setiap membuka sesuatu, butuh KYC," jelas Genta.
Menariknya lagi dari investasi India, menurut dia, adalah CAGR reksa dana paling tinggi, dibandingkan dengan aset investasi lainnya. "Pertumbuhan terbesar justru datang dari daerah-daerah atau di luar 15 kota besar di negara tersebtu," terang Genta.
Kemudian dari Association of Mutual Funds in India (AMFI), Genta membeberkan, pihaknya juga mendengar bahwa dari sekian basis poin dana keloaan reksa dana itu digunakan untuk pengembangan industri dengan cara menyerahkannya ke regulator pasar modal (Securities and Exchange Board of India/SEBI).
"Ya kira seperti itu, nah inilah yang betul-betul membuat mereka ini bersama-sama mengembangkan. Tidak bergantung pada asosiasi, tidak bergantung pada MI , tidak bergantung pada OJK, tapi semuanya bersama-sama," kata Genta.

