Harga Saham “Blue Chip” Anjlok, Peluang atau Ancaman?
Oleh Hari Prabowo,
Ketua Lembaga Pelatihan dan Pendidikan Pasar Modal (LP3M) Investa
dan pengamat pasar modal
INVESTORTRUST.ID - Harga saham di bursa lazimnya memang bergerak naik turun. Di sini pula tidak ada istilah "pasti naik atau pasti turun". Yang berlaku adalah selalu ada "kemungkinan", yaitu mungkin naik atau mungkin turun.
Dulu mungkin pialang di sekuritas bisa menganjurkan "belilah saham blue chip". Alasannya, dengan dukungan fundamental yang kuat, semakin lama disimpan saham terssebut akan semakin menguntungkan", sambil menujukkan grafik harga 3-5 tahun lalu yang memang menunjukkan grafik ke atas.
Baca Juga
Danantara Belum Berdampak, IHSG Sesi I justru Babak Belur 2,34% Teseret Seluruh Sektor Saham
Tapi, apakah itu akan berlaku terus seiring berjalannya waktu dan harganya pasti berlanjut naik? Ternyata tidak juga. Beberapa saham kategori blue chip sekarang dalam kondisi memprihatinkan, bahkan harganya bisa anjlok lebih parah melebihi saham lapis dua.
Dulu orang tidak memperkirakan harga saham-saham unggulan, seperti UNVR, SMGR, INTP, ISAT, GGRM, HMSP, INKP, BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA bisa turun drastis.
Faktanya, sekarang terjadi apa yang dulu tidak terkirakan. Artinya tidak ada harga saham yang sifatnya pasti, namun selalu ada kemungkinan lain. Yang semula tumbuh bagus bisa saja terjadi sebaliknya.
Demikian pula harga saham yang semula selalu susah naik, sekarang bisa naik membubung tinggi, seperti saham DEWA, BRMS, INPC, PSAB, WIFI, dan HRTA.
Ada apa dengan saham-saham blue chip? Kenapa banyak saham blue chip yang harganya turun?
Berbagai analis bisa berbeda pendapat. Penyebabnya, seperti biasa, ada faktor eksternal dan internal. Penulis sendiri berpendapat bahwa pasar saham kita sedang dalam kondisi sulit saat ini.
Hengkangnya investor asing mulai semester II-2024 seiring penjualan saham-saham blue chip telah menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga tembus di bawah level psikologis 7.000, bahkan kini mencapai 6.749,60.
Baca Juga
Menyibak Misteri, Menerka Teka-teki (Resensi Buku “Rahasia Harga Saham”)
Selama tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak awal 2025 hingga sesi I Selasa (25/2/2025), IHSG melemah 6,9%. Saham-saham blue chip menjadi sasaran utama penjualan investor asing, karena portofolio investor asing memang mayoritas saham blue chip dan saham-saham berkapitalisasi besar.
Saham kategori ini juga mempunyai bobot perhitungan yang tinggi terhadap IHSG, sehingga sangat berpengaruh terhadap pergerakan indeks.
Faktor Global, Daya Beli, dan Danantara
Kondisi ekternal dari sisi politis seperti perang dan pergantian Presiden di Amerika Serikat (AS) telah memengaruhi perekonomian global.
Secara internal, kondisi politik dan ekonomi kita juga masih menghadapi ujian cukup berat. Kinerja 100 hari kabinet baru belum menunjukkan angka yang bagus, bahkan kebijakan seperti penaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sejumlah barang mewah dan peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara masih menimbulkan perdebatan publik.
Daya beli masyarakat yang masih lemah juga telah memengaruhi iklim investasi di bursa saham.
Baca Juga
Ingin Berinvestasi Saham? Jangan Salah, Cek Dulu Keuntungan dan Risikonya!
Pembentukan BPI Danantara menjadi sorotan pelaku pasar, sebab badan ini bisa menjadi harapan besar tapi juga bisa mengandung risiko besar pula.
Dengan nilai dana kelolaan yang sangat besar dibutuhkan orang-orang yang profesional, mental yang bersih dan jujur untuk mengelola Danantara.
Ingat, lembaga pengelola dana seperti Jiwasraya, Asabri, dan Taspen mengalami kerugian besar karena kasus korupsi yang melibatkan para pengelola.
Ini masalah "kepercayaan" yang bisa memengaruhi pasar, karena pelaku pasar tidak bisa diintervensi oleh siapa pun. Mereka bebas menaruh uangnya di mana saja.
Kepercayaan pelaku pasar bisa terbentuk jika pemerintah bekerja dengan baik, transparan, adil, serta bisa tegas menangani korupsi yang sudah kronis ini. Anjloknya harga saham blue chip juga tidak lepas dari kepercayaan pelaku pasar.
Selain itu, kinerja beberapa saham menunjukkan perlambatan meskipun masih mencetak laba. Produk barang dan jasa dari masing-masing emiten selalu mengalami fluktuasi. Belum lagi munculnya persaingan baru sehingga memengaruhi perolehan laba dan struktur keuangannya.
Nah, investor bisa mencermati beberapa saham blue chip yang sedang turun harga. Investor bisa memilih, siapa tahu menjadi peluang jika saham-saham blue chip yang punya prospek bagus mengalami rebound.
Atau mau pilih saham lapis dua dan tiga yang sedang menuju pertumbuhan agresif? ***

