Pasar Saham Tertekan MSCI, Koreksi Ini Menjadi Peluang Rotasi ke Saham Blue Chip
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar saham Indonesia mengawali tahun 2026 dengan kondisi yang konstruktif sebelum dilanda sentimen negative hasil konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara review MSCI Indonesia.
Sentimen negative tersebut telah membuat IHSG terjun lebih dari 8% dalam lima hari terakhir. Bahkan sentimen tersebut telah membuat perdagangan saham sempat terkena trading halt selama 30 menit dalam dua hari beruntun. Isu tersebut juga telah membuat pengunduran diri dirut BEI dan sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan trasformasi besar-besaran pasar saham Indonesia.
Baca Juga
OJK Tegaskan Ketentuan Free Float 15% Berlaku Sejak Awal untuk IPO Baru
Mandiri Sekuritas dalam riset hariannya, Selasa (3/2/2026), menyebutkan bahwa sentimen negative tersebut juga membuat dana asing keluar dalam jumlah jumbo dari pasar saham Indonesia hingga lebih dari Rp 15 triliun di pasar reguler.
“Tekanan yang terjadi di pasar saham Indonesia lebih bersifat sentimen, dibandingkan bersifat struktural. Koreksi yang terjadi dipandang sebagai respons pasar terhadap faktor eksternal, bukan mencerminkan pelemahan fundamental jangka panjang,” tulis analis Mandiri Sekuritas Niel, Kresna Hutabarat, dan Adrian Joezer.
Baca Juga
Riset tersebut menilai, dengan adanya peluang pemulihan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 serta normalisasi biaya modal (cost of capital) yang tetap tetap terjaga, tekanan pasar yang dipicu oleh MSCI justru menjadi peluang menarik bagi investor.
“Koreksi ini bisa menjadi titik masuk (entry point) yang atraktif untuk melakukan rotasi portofolio ke saham-saham blue chips, seiring dengan prospek pemulihan yang masih intact pada tahun 2026,” tulisnya.
Adapun, sesi I, Selasa (3/2/2026), IHSG ditutup menguat signifikan 124,49 poin (1,57%) menjadi 8.047. Kenaikan pesat juga ditopang penguatan sejumlah saham konglomerasi, seperti konglomerasi Prajogo Pangestu dengan kenaikan saham TPIA, BRPT dan CUAN, grup Bakrie ditopang kenaikan saham BUMI dan BRMS, grup Aguan didukung kenaikan saham PANI dan CBDK, grup Happy Hapsoro didukung kenaikan saham RAJA dan RATU, serta grup Haji Isam didukung penguatan saham JARR dan FAST.

