Lanjutkan Pertumbuhan Kuat, Begini Prospek dan Target Harga Saham BSI (BRIS)
JAKARTA, investortrust.id – Dua sekuritas ini memberikan pandangan positif terhadap PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) didukung keberhasilan mencetak kinerja keuangan kuat tahun lalu. Bahkan, pertumbuhan kuat kinerja perseroan diprediksi berlanjut tahun ini.
Sinarmas Sekuritas dalam riset yang dipublikasikan kemarin menyebutkan bahwa BRIS berhasil menjaga momentum pertumbuhan kuat kinerja keuangan dengan performa terbaik tahun lalu.
Baca Juga
Didukung bisnis emas dan tabungan haji diharapkan mendukung tingkat pertumbuhan laba perseroan lebih pesat ke depan bersamaan dengan peningkatan kualitas aset perseroan. Hal ini mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BRIS dengan target harga Rp 4.200 untuk 12 bulan ke depan.
Pandangan positif terhadap performa saham BRIS juga datang dari Verdhana Sekuritas Indonesia. Sekuritas ini menyebutkan bahwa BRIS berhasil mempertahankan pertumbuhan kuat laba bersih pada kuartal IV-2024 senilai Rp 1,9 triliun, sehingga total laba bersih tahun lalu meningkat 23% menjadi Rp 7 triliun.
Pertumbuhan kuat laba bersih didukung peningkatan margin keuntungan pembiayaan (net financing margin) perseroan dari 5,5% menjadi 5,8%. “Dari seluruh bank, BRIS merupakan memiliki aset pendapatan dengan imbal hasil tetap lebih banyak, dibandingkan bank konvensional. Kami memperkirakan sebanyak 55-60% dari total pembiayaan yang sudah disalurkan menggunakan imbal hasil tetap,” tulis tim riset Verdhana Sekuritas.
Baca Juga
Tumbuh 15,25%, BSI Salurkan Pembiayaan Berkelanjutan Rp 66,50 Triliun di 2024
BRIS juga diperkirakan lanjutkan pertumbuhan pembiayaan kuat tahun ini, dibandingkan dengan pertumbuhan kredit bank konvensional. BRIS juga diproyeksikan mampu untuk meminimalkan tekanan terhadap margin pembiayaan dengan stabilisasi biaya pendanaan.
Estimasi Kinerja Keuangan BRIS
Berbagai faktor tersebut mendorong Verdhana Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli saham BRIS dengan target harga Rp 3.800. Target harga tersebut juga menggunakan metodologi DuPont. Target tersebut juga mempertimbangkan revisi naik target laba bersih perseroan tahun ini dari semula Rp 8,02 triliun menajdi Rp 8,21 triliun.

