Prospek Pertumbuhan Kredit BBRI Tetap Kuat, Begini Target Harga Sahamnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek pertumbuhan kredit PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diprediksi tetap solid ke depan, seiring dengan upaya pemerintah untuk mempercepat belanja fiskal untuk menopang konsumsi rumah tangga dan pemberdayaan UMKM.
Hal ini mendorong Mandiri Sekuritas dalam riset hariannya tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 4.400 per saham. Dengan harga penutupan Rp 3.670 kemarin, terbuka peluang penguatan sebanyak 19,89%.
Baca Juga
Mandiri Sekuritas dalam riset harian kemarin menyebutkan bahwa kinerja keuangan Bank Rakyat BBRI sepanjang 10 bulan pertama 2025 menunjukkan tekanan pada profitabilitas. Hal ini ditunjukkan laba bank-only BRI turun 10% year-on-year (YoY) akibat kenaikan biaya pencadangan (credit cost) serta penyusutan margin bunga bersih (NIM).
Meskipun demikian, Mandiri Sekuritas tetap memberikan penilaian prospek pertumbuhan kredit BRI tetap solid ke depan. “Pemerintah diperkirakan kembali mempercepat belanja fiskal untuk menopang konsumsi rumah tangga dan pemberdayaan UMKM. Dua segmen inti yang menjadi fokus bisnis BRI,” tulis riset tersebut.
Dukungan ini, menurut Mandiri Sekuritas, diyakini mampu untuk menjaga momentum penyaluran kredit sekaligus membantu kualitas aset perseroan. Kendati ada potensi pemulihan, BRI tetap menghadapi risiko kenaikan kredit bermasalah (NPL), khususnya dari debitur yang terdampak fenomena cuaca ekstrem.
Baca Juga
BRI, BNI, dan Bank Mandiri Dianugerahi Bank Indonesia Award 2025
Berdasarkan data kinerja BBRI bank only terungkap bahwa laba bersih mencapai Rp 41,05 triliun hingga Oktober 2025, dibandingkan Januari-Oktober 2024 senilai Rp 45,72 triliun. NIM juga turun dari 6,8% menjadi 6,6%. Sebaliknya cost of fund berhasil dipangkas dari 3,5% menjadi 3,3%.
Terkait kinerja tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, BBRI pada Oktober 2025 masih soft, karena pertumbuhan laba sebagian didorong oleh tarif pajak efektif yang luar biasa rendah, sementara earning asset yield (EA yield) masih terus turun dan cost of funds (CoF) tetap stabil, meski kondisi likuiditas membaik.

