Usai Kinerja Keuangan Unilever (UNVR) Hancur Lebur, Fokus Investor Tertuju pada Ini
JAKARTA, investortrust.id – Proyeksi lmbal hasil (yield) dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berkisar 11% tahun ini bisa menjadi pelepas dahaga investor dari bertubi-tubinya penurunan kinerja keuangan. Perkiraan dividen ini datang dari divestasi bisnis es krim bernilai Rp 7 triliun kepada perusahaan affiliasinya PT Magnun Ice Cream Indonesia.
Sebaliknya kinerja keuangan perseroan tahun 2025 diperkirakan makin mengkhawatirkan, seiring dengan berlanjutnya penurunan kinerja keuangan perseroan dari kuartal ke kuarta sepanjang 2024. Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas dan Sinarmas Sekuritas secara bersamaan memangkas turun target kinerja keuangan dan saham Unilever.
“Keuntungan satu kali dari penjualan bisnis es krim bisa meningkatan dividen yield perseroan menjadi 11% tahun ini. Pembagian dividen ini perlu diperhatikan, karena bisa menjadi penodorong harga saham UNVR,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto dan Sabela Nur Amalina dalam riset yang dipublikasikan di Jakarta, beberapa hari lalu.
Baca Juga
Putus Tren Penurunan Kinerja, Unilever (UNVR) Siapkan Strategi Ini di 2025
Selain rencana pembagian dividen, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, Unilever (UNVR) masih memiliki sentimen penopang kenaikan harga saham yang datang dari peluang peningkatan kinerja keuangan mulai semester II-2025, seiring dengan ekspektasi sejumlah inisiatif yang dilakukan mulai membuahkan hasil.
Meski demikian BRI Danareksa Sekuritas tetap merevisi turun target harga saham UNVR dari Rp 1.900 menjadi Rp 1.500 dengan rekomendasi hold. Pemangkasan target harga tersebut menggambarkan kinerja keuangan yang mengecewakan ditambah dengan pemulihan masih berlangsung lama.
Kinerja Mengecewakan
Sementara itu, analis Sinarmas Sekuritas Vita Lestari mengatakan, Unilever Indonesia (UNVR) secara mengejutkan mencatatkan kinerja yang mengecewakan tahun 2024. Penurunan dipicu atas boikot pasar terhadap produk perseroan tahun lalu bersamaan dengan peningkatan kompetisi pasar, khususnya produk local, China, dan Korea.
Dipicu atas penurunan kinerja beruntun selama bertahun-tahun terakhir, dia mengatakan, Unilever (UNVR) telah menyiapkan sejumlah inisiatif penopang kinerja keuangan. Di antaranya harmonisasi harga, penguatan merek portofolio, penguatan distribusi, implementasi efisiensi biaya, dan inisiatif lainnya.
Dia menambahkan, perseroan juga menerapkan inisiasi produk untuk menangkap pertumbuhan pasar pada segmen relevan. Tahun lalu, perseroan telah meluncurkan kembali 15 merek dan memperkenalkan sebanyak 31 merek baru.
Baca Juga
Laba Anjlok 30% di 2024, Unilever (UNVR) Catat Pelemahan selama Enam Tahun Beruntun
“Sejumlah perbaikan dan strategi diharapkan berdampak positif terhadap margin kotor perseroan dalam jangka menengah dengan target mulai berimbas terhadap kinerja keuangan pada paruh kedua tahun 2025,” terangnya.
Meski demikian, Sinarmas Sekuritas masih memilih untuk merevisi turun target kinerja keuangan Unilever tahun depan, seiring dengan menarik kepercayaan pasar masih membutuhkan waktu lebih lama. Proyeksi penjualan tahun ini direvisi turun dari Rp 35,45 triliun menjadi Rp 33,88 triliun dan laba bersih dipangkas dari semula Rp 4,17 triliun menjadi Rp 3,53 triliun. Faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas merevisi turun target harga saham UNVR menjadi Rp 1.400 tahun ini.
Baca Juga
Unilever (UNVR) Dapat Restu Lepas Bisnis Es Krim Rp 7 Triliun
Tahun lalu, UNVR membukukan penurunan laba sebanyak 30% menjadi Rp 3,36 triliun pada 2024, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 4,80 triliun. Catatan tersebut menjadikan penurunan laba perseroan telah merosot dalam enam tahun beruntun.
Berdasarkan data Unilver (UNVR) konsisten mencatatkan penurunan laba sejak 2019 bernilai Rp 7,39 triliun, tahun 2020 mencapai Rp 7,05 triliun, tahun 2021 Rp 5,71 triliun, tahun 2022 Rp 5,51 triliun, dan tahun 2023 Rp 4,49 triliun.

