Mengapa IHSG "Babak Belur" Hari Ini? Ternyata Begini Penjelasannya
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan berat pada perdagangan, Kamis (6/2/2025). Indeks sempat anjlok sebanyak 190 poin (2,72%) menjadi 6.834, meski akhirnya ditutup turun 148,69 (2,12%) menjadi 6.875. Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan bursa saham Asia yang justru menguat.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana berpandangan, penurunan tersebut merupakan respons pasar atas kekhawatiran tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) 2024 yang mencatatkan angka 5,03%. Angka tersebut lebih rendah dari realisasi tahun lalu 5,05% dan jauh di bawah pencapain tahun 2022 sebesar 5,31%.
"Data tersebut memicu sentimen negatif terhadap pasar saham, terutama karena tren perlambatan ekonomi mulai terasa nyata di tengah berbagai tekanan global dan kebijakan domestik yang berpotensi menghambat laju pertumbuhan ke depan," kata Hendra kepada investortrust.id Kamis, (6/2/2025).
Baca Juga
Menurut Hendra, kebijakan efisiensi APBN dan APBD yang dituangkan dalam Instruksi Presiden No. 1/2025 dengan target pemangkasan belanja sebesar Rp 306 triliun menjadi faktor lain yang membuat investor cemas. Konsumsi pemerintah merupakan salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi dan langkah efisiensi ini dikhawatirkan akan memperlambat ekspansi ekonomi lebih lanjut. "Investor semakin khawatir bahwa kebijakan ini, meskipun bertujuan menjaga stabilitas fiskal, justru akan berdampak pada daya beli masyarakat dan investasi di sektor riil," terang Hendra.
Pandangan hampir senada diungkapkan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta. Menurut dia, penurunan indeks tersebut dihantui pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 2024 yang stagnan ditambah Trumponomics. Trumponomics adalah kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh Donald Trump selama masa jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat.
Selain faktor tersebut, Nafan Aji Gusta mengatakan, koreksi dipengaruhi pelemahan Rupiah. “Saya melihat kinerja nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS sehubungan dengan kebijakan Trumponomics yang ditetapkan,” jelas Nafan, Kamis (6/2/2025).
Baca Juga
Meski Harga Terpangkas 16% Sepekan, Sekuritas Ini Sebut Saham Bank Mandiri (BMRI) masih Menarik!
Dari data ekonomi domestik, Nafan menyoroti produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang stagnan dengan perolehan 5,03% pada 2024 atau di bawah target pemerintah 5,2%. Meski angkanya lebih tinggi, dibandingkan proyeksi IMF maupun World Bank dalam world economic outlook maupun global economic prospect pada Januari 2025 sebesar 5%.
“Kami melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia memang relatif stagnan, karena juga terjadi stagnasi dari kinerja konsumsi rumah tangga. Kemudian kinerja industri manufaktur juga underwhelming, sehubungan tren kontraksi dalam PMI Manufacturing Indonesia,” papar Nafan.
Tahun lalu, indeks yang menunjukkan aktivitas manufaktur suatu negara tersebut, berada di bawah level 50 atau tidak ekspansif sampai November 2024. Kemudian PMI Manufaktur Indonesia kembali menempati poin di atas 50 mulai Desember 2024 hingga Januari 2025 yang mengartikan mulai ekspansif kembali.
Di sisi lain, Nafan melihat pertumbuhan ekspor Indonesia justru lebih rendah atau kurang optimum, jika dibandingkan pertumbuhan impor. “Jadi wajar saja kinerja pertumbuhan ekonomi kita memang relatif stagnan di 2024. Kita waktu itu hanya tertolong pada peningkatan government spending kalau yang saya amati, karena terkait dinamika pemilu,” sambung dia.
Baca Juga
Anggaran Kementerian Perumahan Terpangkas Jadi Rp 1,6 T, Bagaimana Program 3 Juta Rumah?
Menurut perhitungan Nafan, kalaupun Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%, pemerintah tetap memiliki tantangan besar untuk menggenjotnya, apalagi menuju 8%
“Implementasi dari Trumponomics 2.0 ini juga membuat IHSG kita khususnya mengalami capital outflow. Ditambah dengan pasar obligasi yang juga mengalami outflow,” tuturnya.
Dengan begitu, Nafan memandang wajar jika nilai tukar Rupiah ikut terdepresiasi akibat faktor-faktor tersebut. Selanjutnya, dia menegaskan bahwa pelaku pasar juga tengah menanti pengumuman data nonfarm payroll AS yang dapat memengaruhi keputusan penetapan suku bunga acuan The Fed serta pergerakan nilai tukar Dollar AS.
Terseret Saham Bank
Sementara itu, Hendra mengatakan, penurunan dalam indeks hari ini juga terseret tekanan jual saham bank, khususnya bank papan atas setelah laporan kinerja kuartal IV-2024 dengan data perlambatan pertumbuhan laba secara kuartalan (qoq). Bank Central Asia (BBCA) yang mencatatkan pertumbuhan laba 12,7% yoy, justru catatkan penurunan laba -3,1% QoQ, sementara Bank Negara Indonesia (BBNI) hanya tumbuh 2,7% yoy, tetapi tergerus 8% qoq. Kondisi yang lebih berat dialami Bank Mandiri (BMRI), di mana pertumbuhan laba hanya 1,3% YoY, namun merosot 11% QoQ.
Data laba dari Bank Rakyat Indonesia (BBRI) masih ditunggu, namun menurt Hendra, pasar sudah bereaksi negatif akan mengalami hal serupa dengan tiga bank lainnya. Koreksi tajam pada saham perbankan tidak bisa dihindari karena sektor ini memiliki bobot besar dalam IHSG, sehingga tekanan jual semakin dalam dan menyeret indeks turun lebih tajam dibandingkan bursa regional. "Ironisnya, saat IHSG tertekan, indeks saham di kawasan Asia justru bergerak menguat," sebut Hendra
Baca Juga
Dipanggil Prabowo ke Istana, Pandu Sjahrir Jadi Pengurus Danantara?
Melihat kondisi ini, dia mengatakan, tekanan terhadap IHSG diperkirakan belum berakhir dan berpotesni berlanjut dalam beberapa hari ke depan, terutama jika belum ada katalis positif yang mampu mengimbangi sentimen negatif dari dalam negeri. “Namun, pembalikan arah bisa muncul, jika investor melihat koreksi yang terjadi sudah cukup dalam dan mulai mencari saham dengan valuasi menarik," ucap dia.
Menurut Hendra, beberapa saham yang masih layak dicermati di tengah tekanan pasar antara lain SCMA dengan target Rp 199, ACES dengan target Rp 830, dan BRIS yang memiliki target Rp 3.130. "Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dalam jangka pendek, sembari mencermati perkembangan global dan arah kebijakan ekonomi domestik yang bisa menjadi penentu utama pergerakan IHSG ke depan," tuturnya.
Grafik IHSG

