IHSG Anjlok lebih dari 2% Dipicu Sentimen Ini
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Senin (3/2/2025), ditutup anjlok 161,43 poin (2,27%) 6.947,77. Penurunan dipicu atas eskalasi perang dagang yang kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) menerapkan tarif import produk dari Kanada, Mexico, dan China yang kemudian dibalas tiga negara tersebut.
Penurunan tersebut dipicu atas koreksi seluruh sektor saham dan diperparah saham-saham kapitalisasi pasar besar (market cap). Hingga pukul 14.14 WIB, penurunan indeks masih berlanjut sebanyak 141 poin (2%) menjadi 6.970.
Baca Juga
OJK Bakal Susun 7 POJK dan 9 SEOJK Bidang PPDP, Target Terbit di Triwulan I-2025
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, pelemahan indeks tidak lepas dari eskalasi perang dagang yang kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengumumkan kebijakan tarif baru terhadap Kanada, Meksiko, dan China.
“Langkah ini memicu respons keras dari mitra dagang AS yang membalas dengan tarif serupa, memperburuk ketidakpastian ekonomi global,” kata Hendra saat dihubungi investortrust.id, Senin, (3/2/2025).
Hendra menjabarkan, adapun dampak dari kebijakan ini langsung terasa di pasar keuangan global. Indeks dolar AS (DXY) menguat ke 109,7 (+1,1%) karena investor mencari aset safe haven, sementara pasar saham global tertekan.
Baca Juga
Kemudian, Nasdaq futures turun 2,35%, S&P 500 futures turun 1,8%, dan Nikkei Jepang terkoreksi 2,4%. Penguatan dolar AS ini memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang melemah 0,99% ke Rp 16.455 per US dolar.
“Dari dalam negeri, pelemahan rupiah dan ketidakpastian global membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham-saham di IHSG,” tutur dia.
Beberapa saham dengan kapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks, seperti saham BREN turun 4,15% menjadi 8.625, saham BMRI turun 4,56%, saham AMMN melemah 6,98% menjadi 7.000, PANI anjlok 18,57%, CBDK turun 7,79% menjadi Rp 7.400, BBCA melemah 1,85%, dan TLKM turun 2,63%. Satu-satunya saham dari daftar top 10 market cap yang melesat adalah DSSA sebanyak 10% menjadi Rp 49.800.
Baca Juga
Balas Tarif Trump, Kanada Mulai ‘Bersihkan’ Alkohol AS dari Toko
Secara teknikal, menurut Hendra, IHSG yang breakdown level psikologis 7.000 kini berpotensi menguji support terdekat di 6931 “Jika level ini ditembus, maka pelemahan bisa berlanjut lebih dalam level support berikut nya 6.880,” jelas dia.
Sentimen negatif dari kebijakan perdagangan AS juga berpotensi memberikan tekanan lanjutan, terutama bagi saham sektor perbankan dan emiten yang memiliki eksposur terhadap perdagangan internasional.
“Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan lebih lanjut terkait respons China, Kanada, dan Meksiko terhadap kebijakan tarif AS, serta dampaknya terhadap stabilitas pasar keuangan global. Jika tensi terus meningkat, tekanan bagi IHSG dan rupiah kemungkinan masih akan berlanjut,” ujarnya.

