Investor perlu Waspada, Penguatan IHSG Saat Ini Dipicu Sentimen Pasar, Bukan Fundamental
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menunjukkan tren penguatan hingga berada di atas level 7.200. Meski demikian, analis memandang lonjakan ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia.
Head of Research and Chief Economist Mirae Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengungkapkan, bersikap hati-hati dalam membaca pergerakan IHSG sepanjang tahun ini masih dibutuhkan. Sebab, reli IHSG saat ini lebih banyak didorong oleh ekspektasi pasar dan sentimen eksternal, bukan kondisi riil perekonomian nasional.
Baca Juga
Investor Asing Berbalik Net Sell Rp 282,59 Miliar, Lima Saham Ini Diobral
"Belum didasari oleh secara fundamental," kata Rully saat Media Day Juni 2025 di Kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (12/6/2025).
Ekonomi Indonesia, menurut dia, masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Bahkan, kuartal kedua tahun ini dinilai akan lebih berat, dibanding kuartal pertama. Indikatornya adalah surplus perdagangan yang terus menipis hampir menyentuh zona defisit.
Selain itu, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia juga mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut. Data ini menandakan melemahnya aktivitas industri.
Baca Juga
Timah (TINS) Bagi Dividen Rp 474,65 Miliar, Segini per Saham
"Oleh karena itu, kami tetap mempertahankan (proyeksi) IHSG di 6.900, karena kondisi market saat ini memang belum mencerminakn kondisi fundamental dari ekonomi kita," terang dia.
Meskipun ada harapan terhadap pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed pada kuartal III-2025, Rully menambahkan, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia kemungkinan baru terasa pada tahun 2026.
Di lantai bursa, pada perdagangan Kamis (12/6/2025), IHSG ditutup turun sebanyak 18,09 poin (0,25%) menjadi 7.204. Pergerakan dalam rentang 7.192-7.237 dengan nilai transaksi Rp 12,75 triliun.

