BPS Sebut Diskon Tarif Listrik Sumbang Deflasi 32,04%
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan, langkah pemerintah memberikan diskon tarif listrik sebesar 50% selama 2 bulan pada awal tahun ini memberi andil bagi deflasi Januari 2025.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, kebijakan ini menyumbang deflasi sebesar 32,03% dengan andil deflasi 1,47% secara bulanan. “Deflasi ini terjadi karena diskon 50% bagi pelanggan dengan daya listrik sampai 2.200 volt ampere (VA) pada Januari 2025,” kata Amalia, di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (3/2/2025).
Baca Juga
BPS: Inflasi Bulanan Komoditas Pangan Ini Tertinggi Selama 5 Tahun Terakhir
Amalia mengatakan, dalam data historis BPS, deflasi akibat tarif listrik juga pernah terjadi pada Juli dan Agustus 2022. Kondisi ini karena penyesuaian tarif tenaga listrik pada kuartal III 2022 yang tertuang dalam Surat Menteri ESDM Nomor T-162/TL.04/MEM.I/2022 tentang Penyesuaian Tarif Tenaga Listrik pada 2 Juni 2022.
Menurut Amalia, penghitungan diskon dalam survei BPS menggunakan panduan dari consumer price index manual. Panduan ini menjadi acuan bagi kantor statistik dunia dalam penghitungan indeks harga konsumen (IHK). “Artinya, diskon itu dicatat dalam perhitungan inflasi jika kualitas barang dan jasa dalam kondisi normal. Kemudian, harga diskon bisa didapatkan atau tersedia untuk banyak orang,” ujar dia.
Dengan demikian, diskon tarif listrik juga tercatat dalam perhitungan BPS.
BPS mengumumkan terjadinya deflasi secara bulanan dan tahun kalender pada Januari 2025 sebesar 0,76%. Deflasi secara bulanan pada Januari 2025 terjadi karena turunnya IHK 106,8 pada Desember 2024 menjadi 105,99 pada Januari 2025. “Pada Januari 2025, deflasi secara bulanan dan tahun kalender akan sama karena pembandingnya sama, yaitu bulan Januari 2025,” kata dia.
Deflasi bulanan Januari 2025 merupakan yang pertama setelah terakhir terjadi pada September 2024.
Amalia mengatakan, kelompok komoditas penyumbang inflasi terbesar, yaitu perumahan, air, listrik, bahan bakar rumah tangga yang mengalami deflasi sebesar 9,16% secara bulanan dengan andil deflasi 1,44%. Komoditas yang mendorong deflasi kelompok ini adalah tarif listrik yang andilnya ke deflasi sebesar 1,47%.
Baca Juga
Indef: Prabowo Sukses Jaga Inflasi, Pelemahan Daya Beli Jadi PR
“Komoditas lain yang juga memberikan deflasi adalah tomat dengan andil deflasi 0,03% ketimun, tarif kereta api, dan tarif angkutan udara dengan andil deflasi masing-masing 0,01%” kata dia.
Meski begitu, masih ada komoditas yang menopang inflasi, yakni cabai merah dan cabai rawit. Andil inflasi dua komoditas tersebut, yaitu 0,19% dan 0,17%. “Ikan segar, minyak goreng, dan bensin memberikan andil inflasi masing-masing 0,03%” ujar dia.

