Harga Minyak Melaju Positif, Ini Pendorongnya
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak Rabu (8/1/2025) pagi ini terpantau bergerak pada tren naik (bullish) ke posisi 77,33 per barel. Kenaikan ini didukung sentimen pasca rilisnya survei produksi OPEC bulan Desember dan laporan stok minyak American Petroleum Institute (API).
Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) dalam riset harian yang diterbitkan Rabu (8/1/2025) menilai, menguatnya sinyal optimistis akan pertumbuhan ekonomi China turut memberikan dukungan pada harga minyak.
Di mana produksi minyak OPEC turun sebesar 50.000 bph pada bulan Desember menjadi 26,46 juta bph, setelah dua bulan mengalami peningkatan. Untuk penurunan terbesar berasal dari UEA dan Iran yang mencatatkan penurunan masing-masing sebesar 90.000 bph dan 70.000 bph di bawah target kuota yang disepakati. Hasil survei tersebut menunjukkan komitmen para anggota aliansi dalam menjaga output minyak yang diproduksi.
"Masih dari sisi pasokan, grup industri API merilis laporan mingguan terbaru yang menunjukkan stok minyak mentah AS mengalami penurunan sebesar 4,02 juta barel untuk pekan yang berakhir 3 Januari," tulis riset ICDX.
Baca Juga
Pertamina Hulu Rokan Catatkan Lifting Minyak 58 Juta Barel Sepanjang 2024
Laporan API tersebut mengindikasikan permintaan yang kuat di pasar energi AS. Meski demikian, pasar masih menantikan laporan resmi versi pemerintah yang akan dirilis Rabu malam oleh badan statistik EIA.
Sentimen positif lainnya, Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional (NDRC), perencana ekonomi utama China, pada hari Selasa merilis pedoman untuk membangun pasar nasional yang terpadu, guna mendorong peningkatan permintaan domestik sekaligus mempercepat integrasi dan konektivitas infrastruktur pasar.
"Berita tersebut menambah optimisme akan petumbuhan ekonomi di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu," ulasnya.
Baca Juga
Sinyal Positif Pertumbuhan Ekonomi China Dorong Laju Harga Minyak
Sementara itu, Presiden terpilih AS Donald Trump pada hari Selasa menegaskan akan mencabut larangan pengeboran minyak dan gas lepas pantai saat hari pertama ia menjabat pada tanggal 20 Januari mendatang. Trump juga menambahkan bahwa ia berencana membuka pengembangan minyak dan gas di Suaka Margasatwa Arktik Nasional dan akan berusaha memblokir proyek angin baru. Komentar Trump tersebut mengindikasikan potensi meningkatnya output minyak dan gas AS di masa mendatang.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 77 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 72 per barel.

