Jaga Keandalan Layanan, PLN Tegaskan Pengembangan Pembangkit EBT Harus Bertahap
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Direktur PT PLN Enjiniring Chairani Rachmatullah menegaskan pengembangan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) harus dilakukan secara bertahap. Dengan demikian, PLN akan tetap memanfaatkan gas sebagai sumber energi transisi.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2024-2040 yang sedang digodok PLN bersama dengan pemerintah disebutkan kebutuhan listrik nasional sekitar 100 gigawatt (GW). Komposisi sebanyak 75 GW pembangkit energi terbarukan, 5 GW pembangkit nuklir, dan 20 GW dari natural gas.
Baca Juga
“Transisi harus berjalan secara smooth untuk menjaga keandalan layanan listrik masyarakat. Kita tidak ingin Indonesia yang layanan listriknya sudah bagus tiba-tiba jadi terganggu oleh intermitensi,” kata Chairani dalam acara Electricity Connect, Kamis (21/11/2024).
Saat ini, dia menyebutkan, Indonesia masih sangat bergantung pada pembangkit listrik berbasis batu bara. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga Agustus 2024 ketergantungan Indonesia terhadap energi yang berasal dari batu bara mencapai 67%.
“Transisi tidak bisa langsung, jadi tidak seperti membalikkan telapak tangan yang kita majority 67% dari coal terus total harus 100% dari renewable. Impossible. Sehingga gas merupakan transisi yang sangat tepat,” papar dia.
Baca Juga
RUPTL 2024-2040 Difinalisasi, 75% Kebutuhan Listrik akan Disuplai EBT
Kendati demikian, Chairani meyakini, target pembangunan 75 GW pembangkit energi terbarukan dalam 15 tahun ke depan bisa terwujud. Hal ini sejalan dengan tren penurunan harga energi terbarukan sebagai peluang besar bagi PLN.
Berdasarkan analisis, Levelized Cost of Electricity (LCOE) dari solar PV kini berada di bawah US$ 5 sen per kWh, sementara Battery Energy Storage System (BESS) dan wind onshore masing-masing berada di bawah US$ 4 sen per kWh.
"Penurunan harga ini memungkinkan PLN untuk menjalankan skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), yang menargetkan penambahan kapasitas 75 GW pembangkit energi terbarukan hingga tahun 2040," ungkap Chairani.
Baca Juga
Wärtsilä Indonesia Ungkap Lima Langkah Guna Mencapai Net Zero Sektor Tenaga Listrik
PLN juga membuka peluang untuk memasukkan pembangkit nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Selain itu, Chairani menekankan pentingnya penguatan jaringan transmisi yang didukung oleh teknologi baterai untuk meningkatkan keandalan layanan.
Melalui strategi ARED dan dukungan teknologi terkini, PLN optimis dapat berkontribusi dalam mendorong transisi energi yang berkelanjutan, sekaligus memastikan layanan listrik yang stabil dan andal bagi seluruh masyarakat Indonesia.

