Wärtsilä Indonesia Ungkap Lima Langkah Guna Mencapai Net Zero Sektor Tenaga Listrik
JAKARTA, investortrust.id – Wärtsilä Indonesia membeberkan lima langkah yang bisa diterapkan Tanah Air untuk mencapai target net zero emission tahun 2060. Sedangkan pembangkit Listrik berbahan bakar gas diprediksi menjadi sumber energi utama dengan proyeksi tambahan kapasitas sebanyak 9 GW tahun 2033 dan 20 GW pada 2040.
Direktur Bisnis Energi Australasia Wärtsilä Energy Kari Punnonen mengatakan, ada lima langkah utama yang harus diambil semua negara untuk mencapai emisi nol bersih di sektor ketenagalistrikan dari sudut pandang Wärtsilä.
Baca Juga
RUPTL 2024-2040 Difinalisasi, 75% Kebutuhan Listrik akan Disuplai EBT
Pertama, meningkatkan kapasitas energi terbarukan. Kedua, menambah pembangkit listrik bermesin fleksibel dan penyimpanan energi untuk menyeimbangkan intermiten energi terbarukan. Ketiga, secara bertahap menghentikan pembangkit listrik tenaga batu bara yang tidak fleksibel. Keempat, mengakses bahan bakar berkelanjutan dan mengubah pembangkit listrik yang tersisa agar dapat beroperasi dengan bahan bakar tersebut.
“Kelima, membangun sistem ketenagalistrikan berdasarkan 100% energi terbarukan, penyimpanan, dan pembangkit listrik fleksibel yang didukung oleh bahan bakar berkelanjutan,” ujarnya saat acara “Electricity Connect 2024”, hari ini, di Jakarta Convention Center, Rabu (20/11/2024).
Fleksibilitas sistem tenaga listrik adalah kunci untuk mengatasi variabilitas keluaran tenaga angin dan matahari dalam jangka waktu tertentu, mulai dari hitungan detik hingga perubahan musim. Menurut dia, pembangkit listrik berbasis mesin yang fleksibel, seperti mesin pembakaran internal (ICE) memainkan peran penting, karena mampu melakukan start-stop, part-loading, dan load-following dengan cepat. “Kapasitas ICE Indonesia sebesar 5 GW telah ditetapkan dan siap untuk mendukung tujuan dekarbonisasi ini,” terangnya.
Baca Juga
Dekarbonisasi dapat dilakukan dengan teknologi saat ini. Walaupun dibutuhkan tambahan pembangkit listrik bertenaga mesin, pabrik ICE Wärtsilä saat ini yang berkapasitas 5 GW, menawarkan kekuatan penyeimbang yang penting untuk memungkinkan Indonesia mengintegrasikan lebih banyak sumber energi terbarukan, memangkas biaya, dan mengurangi emisi CO2.
“Mesinnya akan mendorong transisi energi dengan fleksibilitas pengoperasian. Pembangkit listrik mesin dapat beralih dari start-up hingga beban penuh hanya dalam dua menit tanpa waktu aktif dan waktu henti minimum. Mulai dan berhenti tanpa batas tidak berdampak pada pemeliharaan. Teknologi berkinerja tinggi menawarkan efisiensi energi sederhana tertinggi yang tersedia dibandingkan teknologi saat ini, 50% atau lebih.” jelas Kari.
“Kami pun telah meluncurkan pembangkit listrik berbahan bakar hidrogen skala besar pertama di dunia untuk menjawab kebutuhan dekarbonisasi sektor energi. Teknologi ini bisa mengalihkan penggunaan bahan bakar fosil ke bahan bakar berkelanjutan, seperti hydrogen guna mencapai emisi nol bersih,” tutup Kari.
Sementara itu, Sales Director Indonesia Wärtsilä Energy Febron Siregar mengatakan, peran gas berubah dari baseload menjadi penyeimbang untuk menjadikan Indonesia capai emisi nol bersih. Energi terbarukan yang dipadukan dengan pembangkit listrik bermesin fleksibel memungkinkan terciptanya listrik yang stabil.
Baca Juga
Menteri ESDM Ungkap Potensi Subsidi BBM dan Listrik Tak Tepat Sasaran Senilai Rp 100 Triliun
Dengan diperbolehkannya teknologi gas fleksibel, seperti pembangkit listrik mesin untuk menghasilkan pembangkitan, bila diperlukan secara signifikan, akan mengurangi rata-rata biaya listrik, karena penggantian biaya investasi dengan biaya bahan bakar.
Indonesia telah memasang mesin pembangkit Listrik pembakaran internal sekitar 5 GW yang dapat beroperasi secara fleksibel untuk mendukung energi terbarukan dan memberikan stabilitas dan keandalan setiap hari. Dengan sistem hybrid (menyeimbangkan mesin pembangkit listrik dan solar PV) bisa mengurangi biaya pembangkitan, menyediakan ketersediaan dan keandalan sistem yang lebih tinggi, serta menurunkan emisi. “Hibrida meningkatkan keandalan dan keterjangkauan sekaligus memastikan keberlanjutan,” terang Febron.

