Bitcoin Terus Pecah Rekor, Minat Investor Kini Mulai Bergeser dari Emas ke Aset Digital?
JAKARTA, investortrust.id - Usai Donald Trump terpilih jadi presiden Amerika Serikat (AS), harga Bitcoin semakin melambung. Hal yang berbeda terjadi pada emas yang menurun. Terlihat pergeseran dalam kecenderungan investor, di mana mereka beralih ke aset digital.
Melansir TheBitJournal, Kamis (14/11/2024), pialang aset digital berbasis riset dengan layanan investasi K33 Research menyatakan, korelasi 30 hari antara Bitcoin dan emas kini berada di angka -06%. Dalam korelasi aset, 1 berarti korelasi positif yang berarti ekdua aset bergerak ke arah yang sama, namun nilai -1 menunjukkan korelasi negatif. Artinya, kedua aset bergerak ke arah yang berlawanan.
Di masa lalu, Bitcoin dan emas sering bergerak ke arah yang berlawanan atau setidaknya tidak berkorelasi. Tapi, kinerja kedua aset saat ini menunjukan jika Bitcoin mengungguli emas. Harga Tembus US$ 93.000-an, sementara harga emas malah menurun.
Hal ini menandakan banyak investor yang menggunakan Bitcoin sebagai penyimpan nilai untuk menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Harga Bitcoin sendiri pada Kamis (14/11/2024), pukul 09.22 WIB berada di angka US$ 90.273,96 atau naik 2,93% dalam 24 jam terakhir.
Baca Juga
Alasan dari tren peningkatan ini karena investor berharap bahwa masa jabatan Trump dapat memberikan kepastian akan regulasi yang lebih besar di industri aset kripto. Jika Bitcoin terus mendapat keuntungan dari regulasi yang lebih jelas, maka pertumbuhannya akan terus berlanjut sehingga bisa menjadi daya tarik yang lebih bagi calon investor.
Secara perlahan, investor mulai menarik modal mereka dari emas dan beralih ke Bitcoin, karena pasar ini menawarkan peluang yang jauh lebih baik untuk mendapat keuntungan. Karena semakin banyak lembaga dan investor ritel bergabung dengan kelompok Bitcoin, pasar ini telah menjadi tempat berlindung yang aman bagi orang-orang yang ingin terhindar dari naiknya inflasi dan ketidakstabilan ekonomi.
Terkait ketidakpastian ekonomi, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari juga membahas kemungkinan konsekuesi inflasi dari tarif Trump. Menurutnya, meski tarif satu kali mungkin tidak akan menyebabkan inflasi yang lebih tinggi di masa mendatang, tapi perang dagang yang tengah berlangsung akan menimbulkan ketidakpastian dan mendorong kenaikan inflasi.
Baca Juga
Meningkatnya kekhawatiran akan inflasi dan apresiasi dolar AS, membuat emas mendapat tekanan dari Bitcoin. Komunitas perdagangan mulai meninggalkan emas dan mencari keuntungan yang lebih baik di pasar aset digital.
Kenaikan harga Bitcoin seiring dengan apresiasi dolar AS. Setelah kemenangan Trump, muncul kekhawatiran bahwa pemerintah akan memberlakukan tarif perdagangan yang akan emnyebabkan inflasi.
Ekspektasi ini mendorong imbal hasil US Treasury lebih tinggi, yang menyebabkan dolar lebih kuat dan akibatnya mengurangi permintaan emas. Karena investor mengalihkan fokus mereka ke aset yang menawarkan pengembalian lebih baik dalam lingkungan inflasi.
Pamor emas, sebagai aset yang paling disukai sebagai pelindung nilai, telah tergeser oleh Bitcoin. Seiring menguatnya harga dolar, kekhawatiran inflasi, dan harapan bahwa Bitcoin akan mendapat manfaat dari regulasi yang lebih definitif di bawah pemerintahan Trump yang kedua kalinya, maka Bitcoin tampak semakin menarik.

