MAMI Ungkap Investasi Obligasi kian Menarik, Berikut Faktor Pendorongnya
JAKARTA, investortrust.id –PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyebutkan bahwa pasar finansial Indonesia diuntungkan siklus pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan domestic. Hal ini membuat investasi obligasi kian menarik.
Senior Portfolio Manager, Fixed Income MAMI Syuhada Arief mengatakan, ruang pelonggaran moneter di Indonesia diperkirakan besar di tengah peralihan menuju kebijakan pro pertumbuhan bersamaan dengan proyeksi berlanjutnya pemangkasan tingkat suku bunga The Fed.
Dia mengatakan, pemangkasan suku bunga The Fed diperkirakan Kembali dilakukan pada kuartal IV-2024, namun besaran pemangkasan suku bunga akan tergantung kondisi dan indikator ekonomi yang terjadi. Angkanya diperkirakan tidak sebesar dari pemangkasan suku bunga The Fed yang terakhir.
Baca Juga
Yield Obligasi AS Melonjak Setelah Rilis Data Ekonomi Terbaru
“Kawasan Asia masih memiliki daya tarik, dipicu stabilitas pertumbuhan ekonomi dan selisih suku bunga riil dengan AS yang berpotensi melebar,” tulisnya dalam keterangan, Senin (21/10/2024).
Sementara itu, pemerintah China telah mengumumkan serangkaian pelonggaran moneter dan komitmen terhadap stimulus fiskal, hal ini mengindikasikan perubahan fokus kebijakan dari pro- stability menjadi pro-growth.
MAMI mencermati bahwa perubahan ini awalnya disambut positif, dan mampu mendorong masuknya arus dana asing secara masif ke pasar saham China. Namun pasar masih menantikan stimulus fiskal untuk mendukung konsumsi masyarakat yang dipandang dapat lebih efektif mendukung pertumbuhan ekonomi China.
Baca Juga
Eastspring Investment Beberkan Strategi Alokasi Aset di Tengah Tren Penurunan Suku Bunga
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menyatakan fokus kebijakan yang beralih dari pro-stability menjadi lebih seimbang antara stabilitas dan pertumbuhan, mengindikasikan potensi kebijakan kedepan dapat menjadi lebih pro-growth, sehingga pemangkasan BI Rate diperkirakan berlanjut di kuartal-IV tahun 2024, sebagai antisipasi dalam menopang pertumbuhan di tengah risiko perlambatan ekonomi global.
Adapun, inflasi domestik yang rendah dan risiko melambatnya pertumbuhan ekonomi global dapat menjadi faktor pemicu bagi BI untuk mempercepat pemangkasan suku bunga.
Baca Juga
Gandeng Manulife Aset, Bank Mega Syariah Tawarkan Enam Produk Reksa Dana Syariah
Secara historis dalam siklus pemangkasan suku bunga, dia mengatakan, imbal hasil obligasi cenderung turun selaras dengan besaran pemangkasan yang terjadi. Oleh sebab itu, outlook pemangkasan BI Rate yang masih terbuka ke depannya mendorong potensi investasi jangka panjang yang menarik bagi pasar obligasi dan memberi peluang bagi investor untuk ‘mengunci’ imbal hasil di level menarik sebelum pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
MAMI menilai, tingkat imbal hasil SBN 10 tahun masih pada level atraktif, di mana selisih imbal hasil SBN 10 tahun – US Treasury 10 tahun di kisaran 280 bps, di atas rata-rata 250 bps. Sementara itu stabilitas inflasi, nilai tukar Rupiah, arah kebijakan fiskal domestik, serta outlook soft landing AS menjadi faktor risiko yang dapat mempengaruhi outlook pasar obligasi domestik ke depannya. “Kami memperkirakan, imbal hasil SBN 10 tahun masih ada di kisaran 6,00% – 6,25% hingga akhir tahun ini,” pungkas Arief.

