MAMI Sebut Suku Bunga Bisa Turun 100 Bps, Kinerja Obligasi Dipercaya Cerah
JAKARTA, investortrust.id – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan memangkas suku bunga acuan hingga sekitar 100 basis point’s (bps) sampai akhir 2025.
“Ke depannya, konsensus pasar memperkirakan BI akan bergerak lebih konservatif dibanding The Fed,” terang Portfolio Manager, Fixed Income MAMI Laras Febriany secara tertulis, Rabu (11/9/2024).
Sementara itu, The Fed diprediksi akan menurunkan suku bunga sebanyak 200 bps pada periode sama.
Dalam rapat BI bulan Agustus 2024, ditegaskan bahwa fokus kebijakan di kuartal III-2024 adalah memperkuat stabilitas Rupiah. Sementara, pemangkasan suku bunga baru berpotensi terjadi di kuartal keempat.
Baca Juga
Manulife Aset (MAMI) Proyeksi BI Rate Ada di Kisaran 5,75% - 6,25% Akhir Tahun
“Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa BI belum akan bergerak di bulan September ini, alias menantikan pergerakan The Fed,” sambung Laras.
BI memandang, lebih baik bersikap prudent karena stabilitas Rupiah berdampak positif bagi ekonomi, dengan menjaga stabilitas harga melalui pengurangan inflasi impor.
Stabilitas Rupiah juga dijaga dengan cara mendukung sektor manufaktur padat karya yang memiliki porsi impor bahan baku tinggi, dan menjaga stabilitas pasar finansial dengan menarik arus dana ke pasar domestik.
Mengapa penurunan suku bunga BI berpengaruh positif pada kinerja obligasi di Indonesia? Laras menerangkan bahwa skenario pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat (AS) dan Indonesia, berbeda secara historis .
Di AS, skenario penyebab suku bunga dipangkas adalah bila inflasi sudah terkendali, atau merespon kondisi negatif di ekonomi yang membutuhkan dukungan kebijakan moneter seperti kondisi resesi atau krisis.
Sedangkan di Indonesia, pemangkasan suku bunga BI merupakan sinyal bahwa makroekonomi domestik dalam kondisi yang kondusif. “Biasanya inflasi terkendali, atau Rupiah stabil. Maka dari itu pasar cenderung positif pada periode pemangkasan suku bunga BI,” tegas Laras.
Kalau dilihat secara historis pada periode 2011-2020 terdapat empat kali siklus pemangkasan suku bunga, di mana pasar obligasi secara rata-rata mencatatkan kinerja positif.
Laras menyebutkan, obligasi menawarkan potensi capital gain dan elemen stabilitas bagi portfolio investor. Kelas aset obligasi secara historis mencatat kinerja baik dalam periode pemangkasan suku bunga, sehingga dapat menjadi opsi bagi investor untuk mendapatkan potensi capital gain memasuki periode pemangkasan suku bunga global.
Baca Juga
Imbal Hasil Obligasi Diprediksi Capai 15%, Intip Tiga Faktor Pendorongnya
Di sisi lain, pasar tidak bergerak dalam garis lurus, melainkan selalu ada dinamika. Oleh karena itu karakter obligasi yang defensif dinilai memberikan elemen stabilitas untuk menjaga keseimbangan portofolio investor.
“Reksa dana obligasi dapat menjadi opsi bagi investor untuk menangkap potensi di pasar obligasi,” imbuh Laras.
Dengan reksa dana obligasi, investor dapat memiliki eksposur obligasi yang terdiversifikasi di berbagai tenor dan jenis obligasi. Terdapat pula pengelolaan secara aktif yang dilakukan manajer investasi untuk menyesuaikan strategi portofolio dengan kondisi terkini.
“Di MAMI pengelolaan reksa dana obligasi dilakukan secara aktif dengan fokus pada manajemen durasi serta pemilihan efek. Kami juga mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali,” papar Laras. (CR-10)

