Suku Bunga Dipangkas, Reksa Dana Pendapatan Tetap Masih Akan Moncer
JAKARTA, investortrust.id - Pemangkasan suku bunga acuan atau BI Rate oleh Bank Indonesia sebesar 25 basis point menjadi 6% dinilai bakal menjadi katalis postif bagi pertumbuhan kinerja reksa dana pendapatan tetap.
Senior Teknikal Analis Samuel Sekuritas, Muhammad Alfatih mengatakan, ketika suku bunga diturunkan, maka reksa dana pendapatan tetap menjadi menarik sehingga harganya menguat.
Pendapat senada diungkap oleh Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas, Ridwan Adi Gunawan. Menurutnya pemangkasan suku bunga akan meningkatkan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana pendapatan tetap.
Penguatan NAB dipicu oleh masuknya aliran dana yang besar ke pasar obligasi, yang menjadi underlaying asset reksa dana pendapatan tetap. Pasalnya dengan turunnya suku bunga, investor akan mencari alternatif investasi yang lebih menarik ketimbang deposito perbankan.
Baca Juga
Jumlah Investor Tembus 12,88 Juta, Industri Reksa Dana dalam Tren Positif
“Kenaikan NAB disebabkan oleh menguatnya harga obligasi, otomatis akan memberikan return yang lebih tinggi kepada investor,” kata Ridwan saat dihubungi investortrust.id Jumat, (20/9/2024).
Berdasarkan dana Infovesta, selama sebulan terakhir reksa dana pendapatan tetap menghasilkan return positif lebih dari 1%. Sedangkan dalam tiga tahun terakhir sejumlah produk reksa dana berhasil memberikan return di atas dua digit.
Tercatat reksa dana Bahana Pendapatan Tetap Utama bahkan menorehkan return sebesar 44,19% selama 3 tahun, disusul Insight Renewable Energy Fund sebesar 27,11%.
Di bawahnya ada Danareksa Melati Pendapatan Tetap Multi Plus dengan return sebesar 24,25% disusul Insight Infra Development sebesar 23,88%. Bahana Prime Income Fund mencatat return 21,15% untuk periode 3 tahun, menyusul HPAM Ultima Obligasi Plus dengan return 18,39%.
Penerbitkan Obligasi Anak Tumbuh
Di sisi lain, pemangkasan suku bunga juga akan berdampak positif bagi penerbitan obligasi korporasi. Alfatih bilang, suku bunga yang turun menjadi kesempatan untuk melakukan refinancing. “Dengan menukar obligasi lama dengan kupon lama yang tinggi ke penerbitan obligasi baru yang kuponnya pasti lebih kecil, sehingga mengurangi beban pembayaran bunga utang,” ujar Alfatih.
Kemudian, Ridwan juga menambahkan, penerbitan obligasi korporasi diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi karena, perusahaan dapat menggunakan momentum ini untuk menerbitkan obligasi korporasi dengan COF yang lebih rendah, untuk mendukung ekspansi maupun investasi.
Baca Juga
AUM Melesat 32,39%, Reksa Dana BRIF Milik BRI-MI Raih Penghargaan
Sebagai informasi, PT Bursa Efek Indonesia mencatat total penerbitan obligasi dan sukuk sudah mencapai Rp 89,69 triliun sepanjang tahun berjalan 2024. Total emisi obligasi dan sukuk itu mencakup 106 emisi dari 64 emiten.
Dari rincian tersebut, maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 587 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 462,16 triliun dan US$ 60,12 juta yang diterbitkan oleh 132 emiten.

