Jumlah Investor Tembus 12,88 Juta, Industri Reksa Dana dalam Tren Positif
JAKARTA, investortrust.id - PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor reksa dana sebesar 12,88 juta per 31 Agustus 2024, meningkat 12,82% dibanding posisi akhir tahun 2023 yang tercatat sebanyak 11,41 juta.
Dari 12,88 juta investor reksa dana yang tercatat di sistem S-Invest KSEI, sebanyak 99,89% diantaranya merupakan investor individu dan hanya 0,11% investor institusi.
Pertumbuhan jumlah investor sejalan dengan kenaikan dana kelolaan atau asset under management (AUM) Manajer Investasi yang tercatat naik 2,21% secara year to date menjadi sebesar Rp 810 triliun per akhir Agustus 2024.
Jumlah dana kelolaan juga menunjukan kenaikan secara bulanan sebesar 0,79% dari posisi akhir Juli 2024 yang tercatat sebesar Rp 804,24 miliar.
Sekadar mengingatkan, pertumbuhan jumlah dana kelolaan MI didorong oleh penambahan investasi dari investor reksa dana baik eksisting maupun investor baru. Selain itu pertumbuhan kinerja underlaying asset reksa dana juga berperan dalam meningkatkan AUM.
Perlu dicatat bahwa, pertumbuhan AUM yang tercatat di S-Invest KSEI terpantau terjadi dua bulan secara beruntun, di mana naik sebesar 2,11% dari Juni ke Juli, dan 0,79% dari Juli ke Agustus 2024. Sementara pada periode sebelumnya, AUM reksa dana mengalami penurunan secara bulanan
Data menarik lainnya yaitu nilai AUM dari kanal selling agen fintech atau SA Fintech, yang mencatat pertumbuhan sebesar 8% secara year to date menjadi Rp 30,43 triliun. KSEI menyebut peran fintech begitu dominan dana mendongkrak jumlah investor reksa dana.
‘’Sebanyak 73,43% investor memiliki rekening di SA Fintech, adapun total investor reksa dana yang masuk melalui SA Fintech mencapai 10,03 juta,’’ tulis KSEI dikutip, Jumat (20/9/2024).
Menanggapi perkembangan reksa dana kekinian, CEO Pinnacle Persada Investama atau Pinnacle Investment, Guntur Putra mengatakan, kinerja reksa dana baik AUM maupun return sangat bergantung pada kondisi perekonomian dan geopolitik secara global maupun domestik.
“Karena underlying instrumen di reksa dana akan sangat tergantung faktor- faktor tersebut. perbaikan kondisi pasar dan kepercayaan investor tentunya memiliki peranan penting juga untuk pertumbuhan kinerja reksadana,” jelas CEO Pinnacle Investama kepada investortrust.id, baru-baru ini.
Oleh sebab itu, untuk menghadapi volatilitas pasar, strategi manajemen risiko yang bisa dilakukan oleh investor adalah melakukan diversifikasi portofolio, melakukan pengelolaan likuiditas yang baik, serta terus memantau pergerakan pasar.
“Upaya ini bertujuan untuk mengurangi eksposur terhadap risiko pasar dan menjaga stabilitas kinerja reksa dana secara jangka panjang,” pungkasnya.
Dalam kesempatan lain, Direktur Utama BRIDS Laksono Widodo mengungkapkan bahwa pasar reksa dana dipenuhi tren positif baik dari sisi pertumbuhan investor reksa dana, Asset Under Management (AUM) maupun Nilai Aktiva Bersih (NAB) hingga akhir tahun 2024.
“Kami melihat tren positif di industri reksa dana sebagai peluang sangat besar,” ujar Laksono.

