BI Tetap Yakin Rupiah Moncer Meski Suku Bunga Dipangkas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) meyakini stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi yang terkendali, serta kecukupan likuiditas menjadi fondasi kuat untuk mendukung perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global. Bahkan meski telah memangkas suku bunga acuan ke level 5,25%, BI meyakini nilai tukar rupiah akan tetap moncer ke depan.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter (DKEM) BI, Firman Mochtar, mengungkap nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 16.700 per dolar Amerika Serikat (AS), kini stabil di kisaran Rp 16.200 per dolar AS.
Ia mengatakan, stabilnya nilai tukar rupiah tersebut didorong oleh aliran modal asing yang mulai masuk ke pasar keuangan domestik setelah sebelumnya keluar dari Amerika Serikat dan Eropa.
“Ketahanan eksternal Indonesia membaik dan neraca pembayaran surplus dan aliran modal ke Indonesia meningkat, sehingga mendukung penguatan rupiah,” katanya dalam taklimat media di kantor BI, Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Firman menambahkan, alasan lain yang membuat BI optimistis terhadap stabilitas nilai tukar rupiah ke depan adalah terjaganya tingkat inflasi yang kini berada dalam kisaran. Ia menyebut inflasi saat ini cenderung dalam tren menurun. Adapun inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sekitar 1,8%, sedangkan inflasi inti sebesar 2,3%.
Baca Juga
Jisdor Catat Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.283 per Dolar AS, Kamis 24 Juli 2025
Sementara dalam rangka menjaga kestabilan dan memperkuat transmisi kebijakan moneter, Firman membeberkan BI terus melakukan sejumlah langkah, termasuk penurunan SRBI untuk menambah likuiditas perbankan, pembelian SBN di pasar sekunder, serta optimalisasi kebijakan likuiditas makroprudensial yang kini mencapai Rp 371 triliun.
“Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen BI untuk tidak hanya menjaga stabilitas harga dan kurs, tapi juga mendorong ketersediaan kredit bagi sektor riil,” jelasnya.
Ia menuturkan saat ini pertumbuhan kredit per Mei 2025 tercatat 7,77%, namun perlu terus didorong. BI berharap kombinasi antara penurunan suku bunga dan peningkatan likuiditas akan menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi di paruh kedua tahun ini.
Sebelumnya dalam rapat dewan gubernur (RDG) pekan lalu, BI memutuskan menurunkan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,25%. Penurunan ini didasarkan inflasi dan nilai tukar rupiah yang stabil hingga mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Berdasarkan asesmen prospek dan risiko ke depan, RDG BI yang digelar pada 15 dan 16 Juli 2025 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebanyak 25 basis poin menjadi 5,25%,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rilis di Jakarta, Rabu (16/7/2025).
Selain itu, BI menurunkan suku bunga turun deposit facility 25 bps menjadi 4,5% dan lending facility turun 25 bps menjadi 6%. Sebelum pengumuman ini, ekspektasi konsensus Bloomberg terbelah (split), dengan 55% mengekspektasikan BI Rate tidak berubah dan 45% mengekspektasikan pemangkasan sebesar 25 bps.

