Tren Distribusi Reksa Dana lewat Tekfin Meningkat
JAKARTA, investortrust.id – Tren distribusi lewat teknologi finansial (tekfin) disebut-sebut meningkat, dengan mengambil potensi nasabah ritel kalangan muda yakni generasi milenial hingga gen Z.
“Karena masifnya fintech, ada yang nggak terjangkau (oleh manajemen investasi), sekarang jadi terjangkau,” ujar Chief Executive Officer PT Surya Timur Alam Raya (STAR AM) dan Ketua Umum Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Hanif Mantiq kepada investortrust.id saat disambangi ke kantornya di Jakarta, Rabu (18/9/2024).
Perusahaan-perusahaan tekfin, sebut dia, saat ini menggunakan perusahaan manajemen investasi sebagai treasury. Keja sama distribusi reksa dana dimaksud pun, dilakukan antara lain dengan Bareksa, Bibit, dan perusahaan sejenis.
Tak heran bila saat ini sejumlah tekfin terpantau memiliki jumlah dana kelolaan (asset under management/AUM) yang tinggi. Sebut saja seperti Bibit yang diperkirakan memiliki AUM sekitar Rp 16 triliun dan Bareksa dengan AUM Rp 8 triliun.
Baca Juga
Peta MI Penguasa AUM Bergeser Seiring Penurunan Kinerja Reksa Dana Saham
Bila tekfin-tekfin tersebut menjadi manajer investasi (MI), jumlah AUM mereka bisa mengantarkannya ke peringkat masing-masing 15 dan 18 pada daftar MI dengan AUM tertinggi.
Tingginya dana terkumpul pada produk reksa dana yang didistribusikan melalui tekfin, bahkan mampu menggantikan total dana kelolaan yang masuk melaluiunit link asuransi.
“Jadi satu sisi asuransinya menghilang, tapi satu sisi fintech-nya naik. Makanya orang tanya, kenapa nasabah number of investor naik, dari 3 juta ke 13 juta. Tetapi AUM stagnan. Ya karena substitusi, yang ini redemp, akhirnya lima tahun netral,” papar Hanif.
STAR AM sendiri, mengakui adanya penurunan total dana kelolaan dari produk unit link asuransi dengan berkurangnya kontrak pengelolaan dana (KPD) asuransi sebesar Rp 2 triliun tahun lalu dan Rp 1 triliun tahun ini.
Sedangkan nasabah kelas atas bertambah semakin banyak, dengan dana kelolaan di atas Rp 5 miliar. Sementara, nasabah pembeli produk reksadana melalui tekfin, didominasi pembeli ritel generasi muda dengan kisaran usia 35-40 tahun yang gemar membeli aset melalui aplikasi.
“Itu yang mendominasi. Nilai investasinya nggak begitu banyak. Banyak yang baru mulai investasi. Rata-rata itu di bawah Rp 10 juta yang masuk reksadana,” tambah Hanif.
Baca Juga
STAR AM Beberkan Strategi Genjot AUM di Tengah Perubahan Tren Industri Reksa Dana
Padahal nasabah dengan investasi di atas Rp 10 juta, yang dikenal lebih aktif dan kerap menambah jumlah investasinya dibandingkan investor dengan dana di bawah Rp 10 juta.
“Kalau yang di bawah Rp 10 juta, apalagi Rp 10.000, orang KSEI bilangnya dormant account. Subscribe Rp 10.000 tetapi nggak ada kelanjutan. Itu biasanya yang bakar-bakar duit fintech. Investasi Rp 100.000. Itu nggak ada naiknya, yang naik ya Rp 10 juta,” papar dia.
Sedangkan profil investor yang berinvestasi di reksadana melalui perbankan atau sekuritas bank, Hanif sebut, umumnya menggelontorkan dana di atas Rp 100 juta. Bahkan untuk nasabah wealth management, bisa berinvestasi antara Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar.
Ke depannya, STAR AM melihat, nasabah reksa dana di perbankan akan lebih dipenuhi oleh nasabah-nasabah usia lanjut dengan dana-dana pensiunnya.
“Jadi ada pergeseran juga, tentang brand image dari sebuah asset management,” imbuh Hanif.
Dia menggambarkan bahwa dahulu, nasabah selalu melihat MI yang dituju, sebelum membeli reksadana. Namun sekarang, investor, terutama yang di bawah usia 40 tahun, rata-rata tak lagi melihat brand MI. Melainkan fokus pada imbal hasil (return) yang bisa mereka terima sebagai nasabah.
Hanif mengakui bahwa saat ini banyak MI yang berani memberikan return tinggi di atas rata-rata dan tetap digandrungi nasabah, meski MI tersebut pernah tersangkut kasus karena tidak bisa mengembalikan imbal hasil milik nasabah.
Padahal, MI dengan berbagai macam produk investasinya tidak dijamin seperti penyimpanan uang atau deposito di bank yang ditanggung Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Oleh karena itu, Star AM mengingatkan agar nasabah memahami bahwa industri memang memiliki risiko, sehingga sebaiknya tak tergiur oleh return tinggi semata. (CR-10)

