Suspensi Saham Green Power (LABA) Dibuka, Bakal Ikuti Lompatan Saham KARW dan FORU?
JAKARTA, investortrust.id – Perdagangan saham PT Green Power Group Tbk (LABA) akan kembali dibuka (unsuspend) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai sesi I, Senin (2/9/2024). Secara bersamaan saham LABA masuk dalam papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme perdagangan full call auction (FCA).
Berdasarkan data, transaksi saham LABA telah mengalami suspensi berkali-kali setelah diakuisisi investor baru. PT Adyatama Global Investama (AGI) dan PT Alfa Omega Investindo (AOI) selaku pengendali telah melepas sebanyak melepas sahamnya di PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA) kepada PT Nev Stored Energy dan PT Longping Investasi dengan kepemilkan masing-masing 50,75% dan 21,75% saham LABA.
Baca Juga
Green Power (LABA) Target Produksi Baterai Lithium 200 Ribu Pcs Pasca Berganti Pengendali
Sejak kabar tersebut menyeruak ke public saham LABA terus melesat dari level penutupan akhir 2023 senilai Rp 50 per saham menjadi Rp 540 hingga kini atau telah terjadi lompatan sebanyak 980%. Kenaikan pesat tersebut menjadikan saham LABA mengalami suspensi berkali-kali, terakhir 23-29 Agustus dan perdagangan saham mulai dibuka per 2 September 2024.
Lalu, apakah pergerakan harga saham LABA bakal mengikuti pergerakan harga saham dua emiten lainnya yang mengalami pergantian pengendali, PT Meratus Jasa Prima Tbk (KARW) dan PT Fortune Indonesia Tbk (FORU)? Berdasarkan data, saham KARW telah melambung 117,5 kali atau 11.750% dari Rp 50 menjadi Rp 5.925 hanya dalam kurun waktu sejak akhir tahun 2023 sampai 39 Agustus 2024. Begitu juga dengan saham FORU telah melesat 1.633,33% atau 17,33 kali dari level Rp 135 menjadi Rp 2.340 sepanjang year to date (ytd).
Lompatan harga saham KARW terjadi setelah PT Saranakelola Investa mengakuisisi sebanyak 80,28% saham FORU dari ICTSI Far East Ltd. Saranakelola membeli sebanyak 80,28% saham KARW dari ICTSI Far East Ltd pada Februari 2024 dengan harga Rp 66 per saham atau mencapai Rp 31,60 miliar.
Baca Juga
Dua Saham Fenomenal 2024, Bahkan Satu Saham Bermodalkan Rp 31,60 Miliar bisa Untung Rp 2,77 Triliun
Begitu juga dengan lompatan saham FORU setelah IMR Asia Holdings menuntaskan akuisisi sebanyak 361,5 juta atau 77,71% saham dari perusahaan yang dikendalikan Peter Sondakh, yaitu PT Karya Citra Prima. Nilai akuisisinya Rp 125,31 per saham atau mencapai Rp 45,29 miliar.
Usai terjadi perubahan pengendali saham LABA, PT Nev Stored Energy (NSE) kemudian melanjutkan perubahan nama perseroan dari PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA) menjadi PT Green Power Group Tbk (LABA). Perubahan pengendali juga diikuti dengan perombakan jajaran manajemen.
Direktur Utama LABA William Ong sebelumnya mengatakan, LABA akan dengan target produksi sebanyak 200 ribu pcs baterai litium kendaraan listrik untuk bisnis manufaktur tahun 2027. Perseroan juga diproyeksikan dapat menyelesaikan pergantian 400 baterai truk.
Baca Juga
Pengambilalihan Tuntas, Ladangbaja (LABA) Rombak Manajemen dan Ganti Nama
Sementara dalam bisnis penukaran baterai, LABA memproyeksikan terdapat jaringan stasiun penukaran baterai sebanyak 3.500 stirage box, termasuk power supply untuk pengisian ulang baterai kendaraan listrik yang akan tersebar di banyak titik.
Sementara dalam kegiatan stasiun tenaga surya, LABA memproyeksikan terdapat pembangkit listrik fotovoltaic dengan kapasitas 30MV yang menghasilkan 40 juta kWh. Sedangkan dalam kegiatan manajemen aset baterai, perseroan sudah memasuki tahap komersial.
Grafik Saham LABA

