Harga Toncoin Hancur Lebur Seiring Penangkapan Bos Telegram. Bagaimana Nasib TON ke Depan?
JAKARTA, investortrust.id – Pendiri dan CEO Telegram Pavel Durov dilaporkan telah ditangkap di Perancis. Peristiwa ini langsung mengguncang dunia kripto. Penangkapan ini diduga terkait dengan berbagai tuduhan serius yang mencakup terorisme, pencucian uang, hingga distribusi konten ilegal. Dampaknya, harga Toncoin, mata uang kripto yang terkait erat dengan ekosistem Telegram, mengalami penurunan tajam.
Pada Sabtu (24/8/2024) malam, Pavel Durov, yang merupakan warga negara ganda Rusia-Prancis, ditangkap oleh Gendarmerie Transport Udara Prancis di bandara Le Bourget.
Penangkapan ini dilakukan atas dasar surat perintah pencarian yang dikeluarkan oleh Direktorat Polisi Kehakiman Prancis, OFMIN. Saat penangkapan, Durov ditemani oleh seorang pengawal pribadi dan seorang wanita.
Mengutip Pintu, Minggu (25/8/2024) tuduhan terhadap Durov sangat serius, termasuk keterlibatan dalam aktivitas terorisme, perdagangan narkotika, konspirasi kejahatan, hingga pencucian uang. Selain itu, Durov juga dituduh membiarkan Telegram menjadi platform yang digunakan untuk mendistribusikan konten ilegal, termasuk materi terkait eksploitasi anak.
Baca Juga
Setelah kabar penangkapan Durov tersebar, harga Toncoin (TON) mengalami penurunan drastis lebih dari 17%, dari US$ 6,86 menjadi US$ 5,66. Hingga Minggu (25/8/2024) pukul 17.40 WIB harga Toncoin juga masih babak belur di mana selama sepekan sudah ambruk 15%.
Toncoin merupakan mata uang kripto yang dikembangkan oleh Telegram dan kabar penangkapan Durov langsung mempengaruhi kepercayaan investor terhadap masa depan proyek ini.
Penurunan harga ini menunjukkan kekhawatiran pasar terkait dampak hukum dan regulasi yang mungkin dihadapi Telegram dan aset terkaitnya jika tuduhan terhadap Durov terbukti. Para investor tampaknya ragu apakah proyek-proyek di ekosistem Telegram dapat terus berlanjut di tengah masalah hukum yang dihadapi pendirinya.
Penangkapan Durov tidak hanya berdampak pada pasar kripto tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan Telegram sebagai platform perpesanan yang aman dan independen. Beberapa tokoh publik telah menyuarakan keprihatinan mereka, menganggap penangkapan ini sebagai bentuk penindasan terhadap kebebasan berbicara dan privasi.
Baca Juga
Wah, Ternyata Telegram Kerap Digunakan untuk Aktivitas Ilegal
Di sisi lain, otoritas Eropa tampaknya semakin serius dalam menindak layanan pesan aman yang dianggap berpotensi digunakan untuk kegiatan kriminal. Kasus ini mungkin akan menjadi preseden dalam upaya global untuk mengontrol platform digital yang sangat terenskripsi.
Durov, yang sebelumnya mengungkapkan kekhawatirannya tentang peningkatan pengawasan pemerintah, kini harus menghadapi kenyataan bahwa platform yang dia bangun untuk mendukung kebebasan berbicara kini menjadi pusat perhatian dalam pertempuran hukum dan regulasi internasional.

