BEI Targetkan 3-4 Anggota Bursa Derivatif, Perusahaan Efek dengan Jumlah Nasabah Besar Berpeluang
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan sebanyak 3-4 anggota bursa derivatif hingga tahun 2025, dibandingkan posisi saat ini baru satu. Anggota bursa ini akan menawarkan produk derivatif, Single Stock Futures (SSF) atau kontrak berjangka saham.
Single Stock Futures (SSF) adalah perjanjian (kontrak) antara dua belah pihak untuk menjual atau membeli suatu saham dengan harga yang disepakati sebelumnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan. SSF terdiri atas dua jenis, yaitu kontrak beli (long) dan kontrak jual (short).
Baca Juga
Derivatif Kripto Disebut Jadi Kunci Pertumbuhan dan Diversifikasi Pasar Keuangan
Kontrak beli adalah perjanjian membeli suatu saham pada harga dan periode tertentu. Investor “LONG” Futures akan mendapatkan keuntungan apabila harga spot naik, karena investor telah mengunci harga beli (harga matched) yang lebih rendah dibandingkan harga di pasar (harga spot) yang lebih tinggi. Sebaliknya kontrak jual adalah perjanjian menjual suatu saham pada harga dan periode tertentu. Investor “SHORT” Futures akan mendapatkan keuntungan apabila harga spot turun, karena investor telah mengunci harga jual (harga matched) yang lebih tinggi, dibandingkan harga di pasar (harga spot) yang lebih rendah.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik mengatakan, jumlah anggota bursa derivatif paling tidak mewakili sekitar 60% dari total investor yang tercatat di BEI.
Baca Juga
Single Stock Futures (SSF) Resmi Diluncurkan, Begini Keunggulan Produk Investasi Baru Ini
“Kalau kita melihat data distribusi investor terkonsentrasi di anggota bursa tertentu. Ada yang khusus melayani investor asing dan tidak melayani investor retail domestik,” kata Jeffrey kepada investortrust.id, di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (23/8/2024).
Oleh karena itu, kata Jeffrey, beberapa anggota bursa yang diajak untuk berpartisipasi sebagai anggota bursa derivatif adalah anggota bursa yang memiliki basis investor retail jumlah besar.
Di sisi lain, Jeffrey belum bisa mengungkap target transaksi kontrak SSF tersebut. Yang jelas underlying SSF harus berasal dari saham-saham yang likuid dengan pergerakan harga dimanis. Jika pergerakan harganya flat tentu tidak akan menarik untuk derivatifnya.
Baca Juga
Ingin Investasi Single Stock Futures? Simak Kelebihan dan Kekurangannya
Sebagaimana diketahui, BEI sebelumnya telah menetapkan sejumlah saham yang bisa menjadi underlying. Saham-saham tersebut adalah ASII, BBCA, BBRI, MDKA, dan TLKM yang merupakan Indeks LQ45. “Kemungkinan terus ditambah (underlying) dan bisa saja indeks acuan luar negeri,” tuturnya.
Saat ini, BEI tengah memproses grand launching single stock future (SSF) dengan target penerbitan September 2024. Sebelumnya, BEI telah melakukan soft launching SSF bertepatan dengan peringatan HUT ke-47 Pasar Modal Indonesia, Senin (12/8/2024).

