Ingin Investasi Single Stock Futures? Simak Kelebihan dan Kekurangannya
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumlan peluncuran produk derivatir baru, Single Stock Futures (SSF). Produk ini bisa menjadi pilihan investasi yang tetap bisa memberikan keuntungan baik saat pasar dalam menguat (bullish) maupun saat melemah (bearish).
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis I BEI Firza Rizqi Putra mengungkapkan, SSF dapat memberikan cuan bagi investor saat market sedang naik dan turun. Investor bisa memiliki short saat market sedang turun, modal investasi rendah untuk transaksi, dan fee transaksi yang rendah per kontrak.
Baca Juga
Didukung Hal Ini, Sekuritas Ini Ikut Revisi Naik Target Kinerja dan Saham Jasa Marga (JSMR)
“Kalau dilihat produk di BEI, belum ada suatu investasi yang bisa bisa untung, khususnya saat pasar sedang bearish. Selama ini saat harga sedang turun, investor memilih cut loss, averaging down, atau menunggu sampai harga kembali,” papar Firza dalam acara Pengenalan Single Stock Futures dan Implementasi Papan Pemantauan Khusus secara daring, Jumat (15/3/2024).
Namun melalui SSF, dia mengatakan, investor bisa tetap cuan. Saat pasar bullish, investor dapat melakukan beli atau “long”. Investor long akan mendapatkan keuntungan, apabila harga spot naik. Karena investor telah mengunci harga beli (harga matched) yang lebih rendah, dibandingkan harga di pasar (spot) yang lebih tinggi.
Baca Juga
Suku Bunga Jangka Panjang Diprediksi Turun, Reksa Dana Fixed Income Semakin Dilirik
Sedangkan apabila khawatir pasar sedang bearihs, investor dapat melakukan jual atau “short”. Investor akan mendapatkan keuntungan, apabila harga spot turun, karena investor telah mengunci harga jual (harga matched) yang lebih tinggi, dibandingkan harga di pasar (spot) yang lebih rendah.
Perbandingan Saham- SSF
Terkait perbandingan produk saham dan SSF, dia mengatakan, bisa dilihat mulai dari modal transaksi, yaitu modal transaksi SSF lebih sedikit dari saham. Saham memerlukan 100% dari nilai transaksi, tetapi SSF hanya 4% dari nilai transaksi.
“Kalau kita membeli saham TLKM harganya Rp4.000 maka kita membutuhkan kurang lebih Rp400.000 Tetapi kalau kita membeli Single Stock Futures atas TLKM kita hanya butuh 4% saja dari Rp 400.000 Jadi itu kurang lebih Rp16.000 jadi sangat murah memang untuk satuan perjalanan sama 100 lembar saham satu lotnya auto rejectionnya juga tidak ada perbedaan mengikuti dari fraksi harga dari saham,” jelas Firza.
Baca Juga
Sedangkan perdagangan saham memiliki satuan lot (100 saham), dibandingkan SSF satuan perdagangannya adalah 1 kontrak setara dengan 100 saham. Sebab SSF terhitung kontrak, maka jatuh temponya adalah setiap 1 bulan, 2 bulan, atau 3 bulan. Sedangkan saham tidak ada jatuh tempo.
Selain itu, biaya transaksi SSF adalah Rp 250 per kontrak, sedangkan saham adalah 0,03% dari nilai transaksi. Sedangkan dari segi realisasi keuntungan, saham mendapatkan keuntungan dari penjualan saham, sedangkan SSF mark to market setiap hari, yang berarti disesuaikan dengan harga marketnya setiap hari.
“Ini memastikan investor kita mendapatkan kepastian atas pergerakan harga futures yang mengikuti pergerakan harga underlying,” terangnya.
Sedangkan cara menjadi investor Single Stock Futures, Firza menjelaskan, hampir sama dengan menjadi investor saham. Yang membedakan adalah investor harus membuka rekening di anggota bursa (AB) yang mendapatkan lisensi derivatif. (CR-4)

