Intip Prospek Saham United Tractors (UNTR) di Tengah Peluang Revisi RKAB Batu Bara
JAKARTA, investortrust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan kinerja operasional yang beragam pada Mei 2026. Meski sejumlah segmen masih tertekan akibat ketidakpastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), realisasi operasional secara keseluruhan masih sejalan dengan proyeksi kinerja tahun 2026.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan & Kafi Ananta menyebutkan, isu RKAB masih menjadi faktor utama yang memengaruhi aktivitas bisnis batu bara, baik pada lini kontraktor pertambangan PT Pamapersada Nusantara (PAMA), penjualan alat berat Komatsu, maupun bisnis tambang batu bara Perseroan.
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Bukukan Laba Bersih Rp 1,8 Triliun di Tengah Pelemahan Bisnis Tambang
Pada segmen PAMA, total volume pekerjaan pada Mei 2026 turun 16% secara tahunan (year on year/YoY). Penurunan tersebut dipicu oleh berkurangnya volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) sebesar 18% YoY. Sementara produksi batu bara relatif stabil dengan penurunan 4% YoY.
Kondisi tersebut menyebabkan rasio strip turun menjadi 6,6 kali dibandingkan 7,7 kali pada periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, secara kumulatif selama lima bulan pertama atau Januari-Mei 2026, total volume PAMA masih 3% di atas asumsi pro-rata proyeksi 2026. Sedangkan produksi batu bara mencapai 12% di atas target.
Dari segmen penjualan alat berat Komatsu, UNTR mencatatkan penurunan 40% YoY pada Mei 2026. Penjualan unit untuk sektor pertambangan mengalami penurunan paling tajam, yakni 83% YoY akibat penundaan belanja modal (capex) oleh perusahaan tambang batu bara sejalan dengan ketidakpastian RKAB.
Baca Juga
Dharma Henwa (DEWA) Raih Kontrak Jasa Tambang Jumbo Rp 22 Triliun, Positif bagi Keuangan
Sepanjang Januari-Mei 2026, total penjualan alat berat Komatsu turun 28% YoY, sedangkan penjualan unit untuk sektor pertambangan merosot 52% YoY. “Meski demikian, total penjualan Komatsu masih sesuai dengan asumsi proyeksi 2026 berkat permintaan yang lebih kuat dari sektor perkebunan dan konstruksi,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Pada bisnis pertambangan batu bara, penjualan batu bara pada Mei 2026 turun 59% YoY dan juga lebih rendah dari bulan sebelumnya. Namun secara kumulatif selama lima bulan pertama tahun ini, penjualan batu bara hanya turun 6% YoY dan masih 17% di atas asumsi proyeksi tahun 2026. Di sisi lain, penjualan batu bara kokas (coking coal) masih menjadi segmen yang paling lemah dengan penurunan 25% YoY sepanjang periode 5M26.
Baca Juga
PLN Defisit 20 Juta Ton, IMEF Usul DPO Batu Bara dan RKAB Dievaluasi
Segmen bisnis emas, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, tambang Martabe mulai kembali berkontribusi pada Mei 2026 setelah operasional kembali berjalan. Oleh karena itu, tingkat produksi kumulatif hingga Mei dinilai belum mencerminkan kondisi normal.
“Percepatan produksi pada semester II-2026 akan menjadi faktor utama yang perlu dicermati, dengan produksi Mei sebagai titik awal pemulihan,” tulisnya. Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR dengan target harga sebesar Rp 30.600.
