United Tractors (UNTR) Bukukan Laba Bersih Rp 1,8 Triliun di Tengah Pelemahan Bisnis Tambang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan laba bersih, tidak termasuk non-recurring charges, sebesar Rp 1,8 triliun pada kuartal I-2026 atau turun 44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Mengutip keterangan perseroan yang dirilis Kamis, (30/4/2026) penurunan laba bersih terutama dipengaruhi tidak adanya penjualan emas dari PT Agincourt Resources serta melemahnya pendapatan akibat dampak penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026.
Selain itu, selama kuartal I-2026 Perseroan mencatat non-recurring charges sebesar Rp 1,2 triliun yang terutama terdiri atas pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate serta provisi penurunan nilai investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.
Sementara itu, pendapatan bersih Perseroan tercatat sebesar Rp 28,6 triliun atau turun 17% dibandingkan Rp 34,3 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Baca Juga
Belasan Emiten Umumkan Dividen, UNTR dan ITMG Dominasi Nilai Terbesar
Penurunan pendapatan terutama disebabkan oleh penurunan signifikan di PT Agincourt Resources akibat tidak adanya penjualan emas, serta melemahnya kinerja segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan sebagai dampak penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026. Sebagian tekanan tersebut tertahan oleh peningkatan pendapatan dari segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi yang ditopang harga rata-rata batu bara lebih tinggi.
Kontribusi pendapatan bersih Perseroan berasal dari segmen Kontraktor Penambangan sebesar Rp 11,9 triliun atau turun 6% secara tahunan. Segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi menyumbang Rp 8,0 triliun atau naik 13%, sementara segmen Mesin Konstruksi mencatat pendapatan Rp 7,5 triliun atau turun 31%.
Adapun segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya membukukan pendapatan Rp 691,6 miliar atau merosot 76% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Per 31 Maret 2026, Perseroan mencatat utang bersih sebesar Rp 5,5 triliun dengan rasio utang bersih (net gearing ratio) sebesar 5%, dibandingkan posisi kas bersih Rp 7,7 triliun per 31 Desember 2025. Perubahan ini terutama mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.

