Nilai Transaksi Bitcoin Anjlok 30%, Analis Waspadai Pola Crash 2022
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Aktivitas perdagangan Bitcoin (BTC) menunjukkan perlambatan signifikan pada perdagangan Kamis (12/6/2026) pagi. Data CoinMarketCap mencatat nilai transaksi Bitcoin dalam 24 jam terakhir turun 30,25% menjadi US$ 27,37 miliar, meskipun harga aset kripto terbesar di dunia itu masih bertahan di kisaran US$ 61.800-an. Namun, penurunan volume transaksi mengindikasikan pelaku pasar masih cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian arah pergerakan pasar kripto.
Melemahnya aktivitas perdagangan terjadi saat Bitcoin masih bergerak dalam rentang yang relatif sempit. Sepanjang 24 jam terakhir, harga sempat berfluktuasi di area US$ 61.000 hingga US$ 62.500 sebelum kembali stabil di kisaran US$ 61.800.
Di sisi lain, kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat mencapai US$ 1,24 triliun atau naik tipis 0,17%. Sementara rasio volume perdagangan terhadap kapitalisasi pasar berada di level 2,19%, yang mencerminkan aktivitas transaksi yang relatif moderat dibandingkan ukuran pasar Bitcoin secara keseluruhan.
Perlambatan nilai transaksi ini menunjukkan investor masih menunggu katalis baru yang dapat memberikan arah lebih jelas bagi pasar kripto. Sejumlah pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan makroekonomi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral, serta arus dana institusional ke aset digital.
Dari sisi teknikal, level US$ 60.000 masih dipandang sebagai area dukungan penting bagi Bitcoin. Sementara itu, area US$ 62.500 hingga US$ 63.000 menjadi zona resistensi yang perlu ditembus untuk membuka peluang penguatan lebih lanjut.
Baca Juga
Tokenisasi Saham Disebut Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Industri Kripto
Dengan jumlah Bitcoin yang beredar mencapai 20,04 juta BTC atau mendekati batas maksimum suplai 21 juta BTC, pelaku pasar kini menunggu sinyal baru yang dapat mendorong peningkatan aktivitas transaksi dan menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.
Adapun pergerakan harga Bitcoin yang masih bertahan di kisaran US$ 61.800 memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar. Sejumlah analis menilai pola koreksi yang terjadi saat ini memiliki kemiripan dengan penurunan tajam yang dialami aset kripto terbesar dunia tersebut pada 2022.
Analis pasar kripto TARA menilai struktur harga Bitcoin saat ini menunjukkan pola yang menyerupai koreksi ABC dalam Teori Gelombang Elliott. Menurutnya, pasar berpotensi memasuki fase transisi dari gelombang B menuju gelombang C, yang pada siklus sebelumnya ditandai dengan tekanan jual yang sangat kuat.
Pada siklus 2022, gelombang A membawa harga Bitcoin turun dari puncak sekitar US$ 69.000 pada November 2021 menjadi US$ 33.000 pada Januari 2022. Setelah itu, gelombang B mendorong pemulihan harga hingga US$ 48.200 pada Maret 2022 sebelum akhirnya memasuki gelombang C yang menyeret Bitcoin ke level sekitar US$ 15.000 pada November 2022.
Baca Juga
Tak Melulu Fokus pada Bitcoin, Investor Indonesia Mulai Berburu Aset Tokenisasi
TARA menjelaskan bahwa dalam kondisi saat ini, Bitcoin sempat mencatatkan kenaikan hingga US$ 82.800 pada Mei 2026. Namun, pasar masih belum memiliki kepastian apakah level tersebut telah menjadi puncak gelombang B. Untuk mengonfirmasi skenario tersebut, Bitcoin dinilai perlu kembali menguji area US$ 72.800 dan menghadapi tekanan jual di level tersebut.
"Jika pola yang sama kembali terbentuk, maka pasar perlu mewaspadai kemungkinan dimulainya gelombang C yang secara historis berlangsung sangat cepat dan agresif," ujar TARA dilansir dari Cointurk, Kamis (11/6/2026).
Ia mengingatkan bahwa selama fase gelombang C pada 2022, Bitcoin mengalami penurunan signifikan hanya dalam hitungan minggu. Dalam 12 pekan pertama periode tersebut, aset kripto itu mencatatkan 11 candle merah mingguan berturut-turut, mencerminkan derasnya aksi jual di pasar.
Meski demikian, TARA tidak memberikan target harga spesifik untuk potensi penurunan berikutnya. Ia hanya menekankan bahwa apabila pola historis kembali terulang, pergerakan turun dapat terjadi lebih cepat dibandingkan ekspektasi sebagian investor.
Di sisi lain, analis tersebut mengingatkan bahwa setelah menyentuh titik terendah sekitar US$ 15.000 pada November 2022, Bitcoin berhasil membentuk fase konsolidasi selama beberapa pekan sebelum memasuki tren kenaikan baru. Reli berikutnya bahkan membawa harga Bitcoin melonjak hingga mencapai US$ 126.200 pada Oktober 2025.
Menurut TARA, apabila struktur siklus jangka panjang tersebut kembali terbentuk, Bitcoin berpotensi mencetak rekor harga baru setelah fase koreksi berakhir. Namun dalam jangka pendek, fokus pelaku pasar masih tertuju pada kemampuan Bitcoin mempertahankan area perdagangan di sekitar US$ 61.900 dan arah pergerakan selanjutnya di tengah tingginya volatilitas pasar kripto global.
