Harga Bitcoin Pecah Rekor Lagi di US$ 89.863, Analis: Waspadai Aksi Profit Taking
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) terus mencetak all time high baru dalam beberapa hari terakhir, kini menembus angka US$ 89.863 pada Selasa (12/11/2024) pukul 13.54 WIB. Hanya seminggu yang lalu, harga BTC berada di angka US$ 67.830 dengan demikian BTC mencatat kenaikan sekitar 30% dalam sepekan terakhir. Sementara, year to date (ytd) BTC telah melonjak sekitar 85%. Altcoin ikut melonjak bersama Bitcoin (BTC), seperti Ethereum (ETH), Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE).
Kapitalisasi pasar global kripto kini telah melampaui US$ 3 triliun, terakhir kali dicapai pada November 2021. Pergerakan bullish ini terjadi seiring dengan saat pasar mencerna kemenangan telak Donald Trump yang berdampak positif ke pasar kripto.
Presiden terpilih ini telah berjanji bahwa pemerintahannya akan berhenti menjual miliaran dolar Bitcoin yang dikumpulkan oleh AS dari kasus kriminal, dan malah akan menyimpannya sebagai cadangan strategis seperti emas. Kebijakan tersebut akan meredam kekhawatiran investor adanya aksi jual BTC oleh pemerintah AS di masa depan.
Trump juga menyatakan bahwa pada hari pertama jabatannya, ia akan memberhentikan Ketua U.S. Securities and Exchange Commission, Gary Gensler, serta menerapkan kebijakan yang mendorong hak kepemilikan mandiri (self-custody) aset kripto dan mendukung perkembangan industri secara luas.
Di sisi lain, perdagangan ETF Bitcoin spot mencatat penutupan positif selama lima minggu berturut-turut. Pekan lalu, ETF Bitcoin spot mencatat net inflow sebesar US$ 1,63 miliar pada periode 4 - 8 November 2024, dengan angka penutupan harian mencapai US$ 1,48 Miliar pada Kamis (7/11/2024) inflow harian tertinggi sejak pertama kali ETF Bitcoin diperdagangkan pada 11 Januari 2024, menurut data dari SoSo Value.
“Reli Bitcoin berpotensi mencapai angka US$ 91.500. Meski demikian, investor perlu tetap waspada adanya penurunan yang didorong aksi profit taking dan aksi risk off minggu ini karena bertepatan dengan adanya rilis data Inflasi AS dan pidato Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell,” ujar Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha dalam risetnya, Selasa (12/11/2024).
Baca Juga
Bitcoin Kalahkan Perak, Simak 9 Daftar Aset Global Terbesar di Jagat Raya
Panji menyebut bahwa pasar saat ini sedang berada di fase keserakahan yang tinggi. “Selain itu, indeks Crypto Greed and Fear menunjukkan posisi Extreme Greed seperti angka 76, ini mengindikasikan bahwa pasar sedang berada dalam fase ketamakan yang tinggi. Situasi ini sering kali mengisyaratkan bahwa harga kripto telah naik secara signifikan dalam waktu singkat dan mungkin rentan terhadap koreksi,” ujar Panji.
Fokus Minggu Ini: Data CPI dan Pidato Powell
Fokus utama pasar minggu ini adalah data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada 13 November esok, yang diharapkan akan memberi gambaran tentang tekanan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve. Data CPI diprediksi akan meningkat menjadi 2,6%YoY, lebih tinggi dari periode sebelumnya di angka 2,4%YoY dan secara bulanan diprediksi akan tetap di angka 0,2% MoM.
Di sisi lain, data inflasi disusul oleh pidato Ketua Fed Jerome Powell pada Jumat, 15 November 2024 nanti. Meskipun inflasi tahunan diprediksi meningkat, ada kemungkinan Fed akan terus melanjutkan penurunan suku bunga dalam upaya mendorong likuiditas lebih lanjut. Menurut CME Fedwatch Tool, pasar melihat peluang sekitar 65% untuk penurunan suku bunga 25 bps pada FOMC Desember.
Baca Juga
Harga Bitcoin Sentuh Rekor Tertinggi Baru US$ 89.517, Bisa ke US$ 100.000 Saat Pelantikan Trump?
Prediksi dan Risiko
Ekspektasi peningkatan regulasi pro-kripto, ditambah dengan pelonggaran kebijakan moneter, bisa membawa potensi pertumbuhan tambahan bagi BTC dan aset kripto lainnya di minggu-minggu mendatang.
Sebagai kesimpulan, minggu ini menjadi krusial bagi investor kripto, dengan potensi pengaruh besar dari data CPI dan kebijakan Fed pada sentimen pasar. Para investor kripto perlu mempertimbangkan volatilitas yang mungkin terjadi dan peluang dalam mempertahankan posisi mereka saat pasar mencermati arah ekonomi dan regulasi ke depan.

