Bitcoin Terkoreksi dari US$ 78.000 di Tengah Penutupan Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar aset kripto mengalami volatilitas ekstrem sepanjang akhir pekan ini. Setelah sempat mencatatkan optimisme tinggi pada Jumat (17/4/2026) dengan Bitcoin (BTC) menembus level US$ 78.000, arah pasar pada awal pekan ini, Senin (20/4/2026) berbalik drastis akibat eskalasi mendadak di Timur Tengah.
Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha menjelaskan, harapan pasar sempat meningkat saat gencatan senjata Israel-Lebanon diumumkan dan Menteri Luar Negeri Iran menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi kapal komersial.
“Namun, situasi memburuk cepat pada 19 April setelah Iran menolak negosiasi tahap kedua dengan Amerika Serikat,” jelas Panji pada Senin (20/4/2026).
Akibat kegagalan diplomasi tersebut, Selat Hormuz resmi ditutup total, memicu kekhawatiran pasokan energi dunia sebesar 20% di perdagangan minyak global. Dampaknya, harga minyak mentah WTI kembali melonjak ke atas US$ 90 setelah sempat menyentuh level US$ 80 pada Jumat (17//20264). Hal ini memaksa BTC terkoreksi ke bawah level US$ 75.000 sejak kemarin.
Baca Juga
Dibintangi Gal Gadot, Film Bitcoin Berbasis AI Tuai Pro Kontra
Di pasar ETF, inflow masif di tengah ketidakpastian meski dibayangi risiko geopolitik, data institusional justru menunjukkan kepercayaan diri yang luar biasa. Berdasarkan data SoSoValue, aliran dana masuk (inflow) ke Spot Bitcoin ETF terus mencatatkan tren positif selama tiga pekan berturut-turut.
Total inflow mingguan per 17 April 2026 pun mencapai US$ 996,38 juta atau hampir US$ 1 miliar.
Puncak inflow terjadi pada Jumat (17/4/2026) sebesar US$ 663,91 juta dalam satu hari. Sebagai milestone baru, akumulasi agresif ini berhasil mendorong total aset bersih (AUM) seluruh ETF Bitcoin Spot melampaui angka psikologis US$ 100 miliar.
Panji menganalisis, pasar kripto pekan ini akan sangat sensitif terhadap rilis data ekonomi AS yakni ADP employment & klaim pengangguran, serta kejelasan regulasi clarity act di Senat AS.
“Fokus utama tetap tertuju pada kegagalan diplomasi AS-Iran yang berujung penutupan total Selat Hormuz. Eskalasi ini memicu lonjakan harga minyak dan menjadi penentu utama apakah likuiditas akan bertahan di aset berisiko atau justru keluar dari pasar,” tandasnya.
Baca Juga
Biaya Tinggi dan Harga Fluktuatif, 20% Penambang Bitcoin Merugi
Sementara hari ini, Bitcoin diprediksi bergerak dalam rentang harga US$ 74.000 hingga US$ 76.000, dengan potensi harga Ethereum di kisaran US$ 2.200 hingga US$ 2.400.
Dalam 24 jam terakhir, harga BTC tercatat turun 1,87% bertengger di level US$ 74.275 atau sekitar Rp 1,27 miliar. Dominasi pasar BTC (BTC.D) kini berada di level 59,45%, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto melemah 1,7% ke level US$ 2,48 triliun.

