Dibintangi Gal Gadot, Film Bitcoin Berbasis AI Tuai Pro Kontra
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Industri perfilman Hollywood kembali menyoroti misteri terbesar di dunia kripto melalui film thriller Killing Satoshi, yang mengangkat sosok anonim di balik Bitcoin. Film ini dibintangi Gal Gadot dan disutradarai Doug Liman, yang dikenal lewat film The Bourne Identity. Selain itu, proyek ini juga melibatkan aktor Casey Affleck dan Pete Davidson.
Film tersebut menarik perhatian karena menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam hampir seluruh proses visual, sekaligus menandai perubahan pendekatan dalam produksi film skala besar.
Salah satu aspek paling mencolok adalah efisiensi produksi. Killing Satoshi hanya menjalani syuting selama 20 hari, jauh lebih singkat dibandingkan standar produksi film Hollywood yang umumnya memakan waktu berbulan-bulan.
Teknologi AI dimanfaatkan untuk menggantikan berbagai elemen produksi konvensional, termasuk latar dan pencahayaan. Tim produksi menggunakan panggung sederhana, sementara seluruh elemen visual ditambahkan pada tahap pascaproduksi.
Pendekatan ini berdampak signifikan terhadap anggaran. Film dengan skenario mencakup sekitar 200 lokasi global diperkirakan membutuhkan biaya hingga US$ 300 juta jika diproduksi secara tradisional. Namun, dengan AI, biaya tersebut ditekan menjadi sekitar US$ 70 juta.
Baca Juga
Ini Alasan Forbes Tidak Masukkan Penemu Bitcoin Satoshi Nakamoto di Daftar Orang Terkaya
Meski demikian, penggunaan AI dalam industri kreatif masih memicu perdebatan, terutama terkait isu orisinalitas, kualitas artistik, dan potensi dampaknya terhadap tenaga kerja.
Di sisi lain, proyek ini tetap melibatkan sumber daya manusia dalam jumlah besar, dengan 107 pemeran dan 154 kru selama proses syuting. Pada tahap pascaproduksi, sekitar 55 seniman AI akan bekerja selama kurang lebih 30 minggu.
Dari sisi narasi, film ini berfokus pada misteri identitas Satoshi Nakamoto, pencipta Bitcoin yang hingga kini belum terungkap. Adapun minat terhadap topik tersebut kembali meningkat setelah laporan The New York Times yang menyebut Adam Back sebagai kandidat kuat di balik sosok Satoshi. Namun, Back membantah klaim tersebut dan menegaskan tidak ada bukti kriptografis yang mendukung.
Selain Back, sejumlah nama seperti Hal Finney, Nick Szabo, dan Peter Todd juga kerap muncul dalam berbagai spekulasi sebelumnya.
Killing Satoshi tidak hanya mengangkat kembali misteri lama di dunia kripto, tetapi juga menjadi indikasi awal transformasi industri film melalui integrasi teknologi AI dalam proses produksi.
Baca Juga
Satoshi Nakamoto Pencipta Bitcoin Hari Ini Ulang Tahun ke-50, Jejaknya Masih Misterius
Hadapi Kontroversi dan Kritik
Kontroversi nyata pertama datang dari pengumuman casting di Inggris yang dilaporkan oleh Variety. Pengumuman itu mengatakan film indie tersebut dapat menggunakan AI untuk "menyesuaikan" penampilan tertentu dan bahwa para aktor akan tampil di panggung perekaman performatif tanpa penanda dan bukan di lokasi mana pun, menggunakan teknologi AI baru. Pengumuman itu juga mengatakan produser berhak untuk "mengubah, menambah, mengurangi, menerjemahkan, memformat ulang, atau memproses ulang" penampilan menggunakan AI generatif atau pembelajaran mesin, termasuk kemungkinan penyesuaian pada gerakan bibir, wajah, dan tubuh. Pada saat yang sama, pengumuman itu mengatakan produksi tidak akan membuat replika digital yang dapat dikenali dari suara atau rupa aktor tanpa persetujuan tertulis.
Pengumuman itu juga memperingatkan para pemain bahwa mereka mungkin akan berbagi adegan dengan pemain yang dihasilkan AI. Pertanyaan tentang AI dalam film bukan lagi sekadar hal baru. Perdebatan seputar AI dalam film bukan lagi tentang sesuatu yang baru atau menarik. Ini tentang apakah studio menggunakannya untuk mengurangi lapangan kerja, menurunkan kualitas karya, dan membuat pekerjaan kreatif lebih mudah dikendalikan. Dan dengan kemarahan baru-baru ini atas video selebriti yang dihasilkan AI yang masih segar dalam ingatan, waktunya tidak bisa lebih buruk lagi.
Produser Ryan Kavanaugh mencoba menenangkan keadaan. "Kami sangat berhati-hati, sensitif, dan terlalu protektif terhadap aktor untuk memastikan hanya menggunakan AI penangkap performa, yang berarti bahwa kami tidak akan memiliki aktor yang dihasilkan AI yang tidak ada. AI adalah alat yang kami gunakan untuk membuat proses pembuatan film lebih efisien sambil mempertahankan semua pekerjaan kepala departemen, semua pekerjaan aktor, dan mudah-mudahan membantu mengembangkan industri dengan cara yang positif," ujarnya dilansir dari IMdb, Minggu (19/4/2026).
Pernyataan itu jelas dimaksudkan untuk menarik garis antara AI sebagai alat pendukung dan AI sebagai pengganti pemain manusia. Sebuah sumber Variety mengatakan film tersebut tidak akan menggunakan aktor AI tetapi akan menggunakan AI untuk latar belakang dan untuk menyesuaikan penampilan, menghindari pengambilan gambar ulang sambil mempertahankan dialog asli aktor. Di sinilah masalah pesan proyek menjadi mencolok.

