Emas Terkoreksi di Tengah Konflik Selat Hormuz dan Suku Bunga Tinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas dunia melemah pada awal pekan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat (AS), yang mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.
Harga emas merosot ke kisaran US$ 4.775 per troy ons pada awal sesi Asia, Senin (20/4/2026). Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi distribusi energi global.
Laporan Bloomberg menyebutkan Iran membantah akan berpartisipasi dalam pembicaraan damai baru dengan AS. Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tim negosiatornya akan menuju Pakistan untuk melanjutkan putaran kedua dialog dengan Iran.
Baca Juga
Situasi semakin memanas setelah militer Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh kapal komersial. Iran juga memperingatkan akan menargetkan kapal yang mendekati wilayah tersebut hingga AS mencabut blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan Iran.
Tekanan terhadap harga emas juga datang dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. Pelaku pasar sebelumnya memperkirakan pemangkasan suku bunga tahun ini, tetapi proyeksi tersebut bergeser menjadi suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi ini dipicu inflasi yang masih bertahan serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Dalam kondisi normal, emas dikenal sebagai aset safe haven atau instrumen lindung nilai saat ketidakpastian meningkat. Namun, emas tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi karena investor cenderung beralih ke aset berbunga.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data penjualan ritel AS yang dijadwalkan pada Selasa (21/4/2026). Indikator ini mencerminkan tingkat konsumsi masyarakat, yang menjadi salah satu pendorong utama ekonomi AS.
Data tersebut diproyeksikan menunjukkan kenaikan sebesar 1,3% secara bulanan pada Maret, lebih tinggi dibandingkan 0,6% pada Februari. Jika realisasi data lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap dolar AS dapat meningkat dan berpotensi memberikan dukungan bagi harga emas.
Baca Juga
Sebaliknya, jika data menunjukkan penguatan konsumsi dan tekanan inflasi tetap tinggi, maka ekspektasi suku bunga tinggi akan semakin menguat dan berpotensi menekan harga emas lebih lanjut.
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian pasar global, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Ketegangan yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memicu volatilitas tidak hanya pada pasar energi, tetapi juga aset keuangan global termasuk emas.

