Pengamat Nilai THR Belum Mampu Dongkrak Daya Beli Masyarakat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tunjangan Hari Raya (THR) yang dicairkan pada periode Ramadan dan menjelang Idulfitri 2026 dinilai belum mampu meningkatkan daya beli masyarakat. Hal itu disampaikan Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan.
Abdul mengungkapkan, belum mampunya THR Meningkatkan daya beli publik disebabkan oleh berbagai faktor yang terjadi bertepatan pada momen Ramadan, yakni berupa tekanan inflasi di sektor pangan, energi hingga adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
"Jadi pada saat ada peningkatan THR ini justru kita memahami agak sulit untuk memaksimalkan THR ini karena inflasinya menekan dari berbagai sisi baik supply maupun demand," ucap Abdul dalam diskusi yang digelar Indef secara daring, Senin (9/3/2026).
Baca Juga
Sehingga, ia menilai, THR yang diterima dipakai untuk menutupi sejumlah pengeluaran yang terjadi pada momen ramadan dan Idul Fitri, di antaranya adalah kenaikan biaya konsumsi, hingga biaya berpergian yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik Timur Tengah yang sedang memanas saat ini.
"Kalau kita lihat di inflasi Februari, inflasi administrasi itu sudah mencapai 12%. Serta bagi pemudik ini juga ada tantangan infrastruktur. Infrastruktur ini dalam artian BBM, jalan, macet, yang pada akhirnya akan menambah biaya tambahan bagi mereka yang bisa saja dana ini justru diambil dari teknologi," ungkapnya.
Padahal menurut Abdul, pencairan THR pada momen ramadan seharusnya dapat meningkatkan perekonominan nasional, utamanya berdampak positif pada kinerja pada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan dapat menggerakan sektor ini dalam meningkatkan kapasitas produksinya.
"Dari sisi tantangan yang sudah sering kita alami adalah ketika terjadinya menjelang Ramadan maupun Idul Fitr, terjadi peningkatan inflasi, terutama dari sisi bahan makanan karena stok pangan yang terbatas. Persoalannya ini sudah rutin tetapi memang belum pernah terselesaikan persoalan fundamental ini," papar Abdul.

