OJK Sebut Penurunan Daya Beli Masyarakat Belum Berdampak ke Asuransi
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ogi Prastomiyono mengungkapkan, fenomena penurunan daya beli yang saat ini terjadi di masyarakat belum berdampak terhadap industri asuransi.
“Jadi, kalau dampaknya itu belum terlihat,” ujarnya, menjawab pertanyaan investortrust.id usai acara Literasi dan Konferensi Pers Hari Asuransi, yang diadakan Dewan Asuransi Indonesia (DAI) di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (18 Oktober 2024).
Bahkan industri asuransi umum, dikatakan Ogi, mencatatkan pertumbuhan premi double digit, yang mencerminkan positifnya kinerja secara industri. “Preminya itu masih tumbuh dengan baik,” katanya.
Baca Juga
OJK Buka Suara soal Asuransi Kesehatan Eks Menteri yang Ditanggung APBN
Jika melirik data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), kinerja industri general insurance memang mencatatkan pertumbuhan premi double digit atau tepatnya 18,4%, dari Rp 48,91 triliun pada semester I-2023 menjadi Rp 57,92 triliun di periode yang sama tahun ini.
Sementara untuk industri life insurance, menurut Ogi, pertumbuhan preminya masih belum bergairah karena masih terkoreksi oleh produk-produk yang berisiko. Namun seiring berjalannya waktu akan menuju tren perbaikan.
Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan, premi life insurance hanya tumbuh 2,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp 88,49 triliun di periode yang sama tahun ini. Meski tumbuh tipis, tapi premi dari produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link mencatatkan pertumbuhan negatif 13,8%, dari Rp 42,56 triliun pada semester I 2023 menjadi Rp 36,68 triliun di periode yang sama tahun ini.
“Kita selalu memonitor pertumbuhan dari premi asuransi, baik dari asuransi jiwa maupun asuransi umum,” ucap Ogi.
Baca Juga
OJK Beri Izin Usaha Bidang Asuransi Jiwa kepada PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Syariah
Sekadar informasi, merujuk data Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi tercatat sebesar 0,03% secara bulanan. Hal ini secara langsung maupun tidak mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat.
Dengan itu, Indonesia saat ini mengalami deflasi selama empat bulan beruntun dari Mei hingga Agustus 2024. Di mana pada Mei deflasi sebesar 0,03%, Juni 0,08%, Juli 0,18%, dan Agustus 0,03%. Sejalan dengan itu, adapula fenomena masyarakat kelas menengah yang turun kelas di setiap tahunnya sejak 2019-2024.
BPS mencatat, jumlah penduduk kelas menengah mencapai 57,33 juta jiwa (21,45%) pada 2019, lalu 53,83 juta jiwa (19,82%) pada 2021, 49,51 juta jiwa (18,06%) pada 2022, 48,27 juta jiwa (17,44%) pada 2023, dan 47,85 juta jiwa (17,13%) pada 2024.

