RI Putus Tren Deflasi, Peneliti: Daya Beli Masyarakat Belum Pulih
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (1/11/2024) pagi tadi mengumumkan Indonesia mengalami inflasi secara bulanan sebesar 0,08% (mtm) sekaligus tahunan 1,71% (yoy). Indeks Harga Konsumen (IHK) juga tercatat naik ke level 106,01 pada Oktober 2024. Catatan inflasi ini sekaligus memutus tren deflasi yang sebelumnya terjadi selama lima bulan beruntun.
Menurut Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian, terjadinya inflasi sebesar 0,08% secara bulanan tidak serta menunjukkan daya beli masyarakat sudah pulih. Sebaliknya dia menyebut pemerintah masih perlu bekerja ekstra lantaran daya beli masyarakat cenderung belum sepenuhnya pulih. Dia menyebut penyebab inflasi pada bulan Oktober didorong oleh kenaikan harga komoditas emas.
Lebih jauh, alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) itu mengatakan agar mewaspadai inflasi yang terjadi pada komoditas emas. Karena artinya, kata Eliza, masyarakat cenderung khawatir dengan prospek ekonomi ke depan.
"Biasanya ini dilakukan kalangan mennegah atas yang cenderung menyimpann uangnya dalam bentuk investasi emas, sementara kalangan mennegah bawah pendapatan mereka sudah dihabiskan untuk biaya bahan makanan dan perumahan serta transportasi," kata dia kepada Investortrust, Jumat (1/11/2024).
Baca Juga
Inflasi 2024 Sangat Terkendali, BI Punya Ruang Turunkan Bunga 25 Bps
Dia menambahkan, dari capaian inflasi year-to-date (ytd) pada bulan Oktober 2024 dikategorikan masih terbilang rendah. Bahkan dia menyebut angka inflasi ytd pada Oktober 2024 masih lebih rendah dibandingkan saat pandemi covid-19 lalu.
"Artinya daya beli belum begitu membaik meski inflasi, karena penyumbang terbesarnya adalah komoditas emas," tandas dia.
Emas Dorong Inflasi
Diberitakan BPS mencatat terjadi inflasi pada Oktober 2024 sebesar 0,08% secara bulanan, sementara inflasi tahun kalender 0,82% year to date (ytd) dan 1,71% secara tahunan. Inflasi secara bulanan didorong komoditas antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, dan bawang merah.
"Terdapat sembilan komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi secara bulanan, yakni emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, tomat, nasi dengan lauk, kopi bubuk, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), dan telur ayam ras. Tujuh dari sembilan komoditas tersebut termasuk ke dalam golongan kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, di kantor BPS Pusat, Jumat (1/11/2024).
Baca Juga
Potensi Kehilangan hingga 80%, Investasi Pupuk oleh Petani (Cenderung) Tidak Efisien
Amalia mengatakan, setelah mengalami deflasi sejak Mei 2024, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi pada Oktober 2024 dan memberikan andil inflasi 0,03%. Dia menyebut pola yang sama juga ditunjukkan komoditas pada kelompok ini, yaitu bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras mengalami inflasi, setelah sebelumnya menyumbang deflasi.
Plt Kepala BPS itu memberikan catatan khusus terhadap komoditas emas perhiasan, yang masuk ke dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,94% dengan andil inflasi 0,06%.
Kenaikan harga emas di pasar internasional, jelas Amalia, menjadi penyebab utama kenaikan harga emas di pasar domestik. Dengan kenaikan ini, emas perhiasan turut menyumbang inflasi sebesar 0,06% pada Oktober 2024.
BPS menyusuri, komoditas emas perhiasan mengalami deflasi lima kali pada 2022 dan deflasi sebanyak tiga kali pada 2023. Tetapi, setelah periode tersebut, harga emas mengalami kenaikan harga selama 14 bulan terakhir.
“Tetapi sejak September 2023, komoditas emas perhiasan terus mengalami inflasi hingga Oktober 2024,” ujar dia.

